Warga Luragung Bendung Aliran Sungai Cisanggarung

oleh -8 views
BENDUNG CISANGGARUNG. Puluhan petani di Desa Benda, Kecamatan Luragung bersama anggota koramil sedang gotong-royong memasang bronjong untuk membendung aliran Sungai Cisanggarung. FOTO: ALEH MALIK/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID– Warga Desa Benda, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, membendung Sungai Cisanggarung, kemarin. Tujuannya, untuk mengairi sawah, lantaran mengeringnya irigasi di wilayah setempat.

Kegiatan tradisional jelang musim kemarau ini, diberi nama nyusuk dawuan atau bendung Sungai Cisanggarung untuk mengairi sawah dengan cara manual. Menumpukan bebatuan dan bronjong secara gotong-royong oleh warga Desa Benda dibantu anggota Koramil Luragung.

Salah seorang petani setempat, Maman mengatakan, warga sengaja membendung aliran Sungai Cisanggarung, untuk mengairi puluhan hektar sawah di lokasi tersebut. Biasanya, sawah di lokasi ini diairi dari Sungai Cisanggarung. Namun karena debit air sudah mulai surut, kalau pun ada hanya menggenang dan tidak bisa mengalir ke areal pertanian, terpaksa masyarakat membendung aliran sungai.

“Proses bendung Sungai Cisanggarung dengan cara tradisional ini, dananya ditanggung oleh warga secara swadaya. Sebenarnya ada (irigasi), tapi kalau musim kemarau kayak gini mengering,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Koramil 1507/Luragung Pelda Hariyanto menambahkan, pembangunan bendungan secara tradisonal ini, bisa mengurangi biaya pengairan dibandingkan sewa mesin sedot air.

“Kegiatan ini rutin tiap datang musim kemarau. Kasihan para petani tidak bisa bercocok tanam,” tuturnya.

Heriyanto berharap, setelah dilakukan kegiatan bendung Sungai Cisanggarung, para petani tidak khawatir lagi tidak bisa bercocok tanam, karena area pertaniannya bisa diairi.

“Membendung Sungai Cisanggarung menjadi tradisi bagi warga. Sehingga harus terus dilestarikan. Karena banyak makna yang bisa diambil. Kekompakan warga, gotong royong, serta menjalin silaturahmi,” tandasnya.

Diungkapkan Heriyanto, bendungan setinggi satu meter tersebut, dibuat secara sederhana menggunakan bambu dan kayu yang ditimbun dengan batu-batu kecil yang ada di sungai tersebut. Setelah terbendung, genangan air meninggi, sehingga nantinya bisa disedot dengan pompa untuk dialirkan ke sawah seluas 139 hektar.

“Kami membendung Sungai Cisanggarung agar saat musim kemarau tiba, kebutuhan air untuk sawah bisa terpenuhi,” pungkasnya. (ale)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.