Upacara Cuci Pusaka; Dibersihkan di Sumur Kejayaan, Sisa Airnya Jadi Rebutan

oleh -4 views
DISUCIKAN. Proses penyucian Peti Sikuntul, pusaka peninggalan Pangeran Surya Negara yang sekarang dirawat keluarga Elang Panji Jaya Prawira Kusuma, Jumat (15/10). FOTO: SUWANDI/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID – Peti Sikuntul menjadi pusaka favorit di lingkungan Sanggar Seni Tari Kencana Ungu. Meski kondisinya sudah tak berbentuk peti, pusaka peninggalan Pangeran Surya Negara ini mendapat perlakuan layaknya benda keramat lainnya yang sudah lebih dulu dirawat Elang Panji.

Bertepatan dengan tanggal 7 bulan Mulud dalam kalender Jawa, Jumat (15/10) Peti Sikuntul disucikan di salah satu sumur tua yang lokasinya di dekat rumah Elang Panji. Peti dibersihkan menggunakan air kembang dari sumur kejayaan. Sebelumnya dilakukan berbagai ritual sebagai doa pengiring.

“Rutinitas setiap tahun dilaksanakan yaitu siraman Jimat Peti Sikuntul yang dulunya satu paket dengan cis atau Panurat Jagat (pusaka lainnya, red) dan Peti Sikuntul,” ujarnya kepada Rakyat Cirebon, Jumat (15/10).

Dijelaskan Elang Panji, Peti Sikuntul merupakan satu rangkaian dengan Panurat Jagat. Dua pusaka ini sama-sama milik Pangeran Surya Negara yang usianya sudah mencapai sekitar 400 tahun.

“Ini merupakan pusaka yang sudah turun-temurun. Panurat dan Peti Sikuntul itu satu rangkaian,” terangnya.

Namun setelah peti ini diwariskan kepada keturunan Pangeran Surya Negara, pada tahun 1942 antara Peti Sikuntul dan Panurat Jagat terpisah karena dimiliki oleh keturunan berbeda. Namun akhirnya, Peti Sikuntul dan Panurat Jagat kembali bisa disatukan setelah 79 tahun.

“Pangeran Surya Negara keluar dari Keraton Kasepuhan tahun 1769 ke Mertasinga membawa pusaka yaitu Panurat Jagat, Peti Sikuntul kemudian 400 kitab dan naskah kuno serta berbagai pustaka inti lainnya,” jelas dia.

Elang Panji Jaya Prawira Kusuma memboyong Peti Sikuntul pada Selasa (5/10) lalu. Menariknya, kehadiran Peti Sikuntul di kediaman Elang Panji disambut antusias warga. Terbukti, saat Peti Sikuntul disucikan, air bekas mencuci peti ini jadi rebutan warga. Warga berbondong-bondong membawa ember, botol hingga gayung guna bisa mendapatkan air bekas cuci pusaka.

“Kalau air itu tergantung kepercayaan masing-masing. Ada yang untuk di perahu, ada yang untuk di sawah supaya hasilnya melimpah,” tegas dia.

Sesepuh Mertasinga, Pangeran Makmur Kartakusuma mendukung penuh upaya Elang Panji untuk merawat pusaka peninggalan leluhur. Menurut Pangeran Makmur, sebagai putra wayah ada tanggung jawab yang harus diemban yakni melestarikan peninggalan lelulur.

“Kami mendukung pelestarian pusaka peninggalan sesepuh terdahulu. Ini bentuk kepedulian kami sebagai putra wayah untuk merawat dan merumat pusaka peninggalan leluhur,” pungkasnya. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.