Tinggal di Gubuk, tak Mau Direlokasi, Sudah Nyaman Terima Sumbangan

oleh -7 views

Seorang ibu beserta empat orang anaknya yang menjadi gelandangan dan tinggal di sebuah gubuk persis di lampu merah Kanggraksan, Kota Cirebon viral di media sosial. Pasalnya, kondisi tersebut luput dari perhatian. Padahal gubuk tempat tinggalnya berada di lokasi sentral, persis di belokan jalan ByPass menuju jalan Kesambi Raya.

ASEP SAEPUL MIELAH, Cirebon

JUMAT (22/01) kemarin, tim dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSPPPA) Kota Cirebon, mendatangi gubuk keluarga tersebut. Tujuannya, untuk melakukan assessment.

Pekerja Sosial di DSPPPA yang melakukan assessment, Siti Fatimah mengungkapkan, bahwa keluarga tersebut merupakan warga di Kelurahan Kesambi yang memang sudah sekitar tujuh tahun tinggal di gubuk tersebut.

Terkesan luput dari pantauan, lanjut Siti, karena sang ibu tidak pernah menyuruh keempat anaknya turun ke jalan untuk mengemis. 

Dilihat dari fisiknya, gubuk yang mereka tinggali sangatlah sempit. Berada di pojok jalan belokan menuju Jalan Kesambi Raya. Hanya ada sedikit ruang yang dipakai untuk tempat tidur, dan tentunya sangat tidak representatif untuk dikatakan sebagai tempat tinggal.

“Gubuk kecil tepat di lamer Kanggraksan. Di situ ada tempat tidur. Kondisinya memang tidak layak untuk anak-anak. Hak-hak anak juga tidak terpenuhi. Tadi saat kita assessment, kita tracing. Kita beri pengertian kalau tidak boleh anak tinggal di situ. Apalagi musim hujan,” ungkap Siti kepada Rakyat Cirebon, kemarin.

Saat diberikan pengertian, pihaknya akan membantu dengan menempatkan anak-anaknya ke panti asuhan, sang ibu terkesan menolak. Ternyata selama tinggal di sana, mereka terbiasa mendapatkan uluran tangan dari para dermawan. Dan sepertinya, hal tersebut membuat mereka nyaman. Sehingga enggan untuk dibantu mendapatkan tempat yang layak.

“Kita akan titipkan di panti, biar anak-anaknya bisa sekolah dan terlindungi. Kalau mau ibunya juga tinggal di panti. Atau nanti kita kirim ke rumah singgah. Tapi keukeuh tidak mau karena di situ banyak yang ngasih sumbangan,” ujar Siti.

Dinas Sosial, lanjutnya, memberikan kepedulian bukan hanya dengan memberikan sumbangan secara terus-menerus. Karena justeru hal tersebut akan membuat mereka nyaman dan sulit untuk di-assessment.

Tak bisa sekaligus, kata Siti, sang ibu perlu beberapa waktu untuk diberikan pengertian agar mau direlokasi. Karena dalam dunia pekerja sosial, posisi mereka adalah sebagai klien. Dan kondisi seperti itu tidak bagus untuk klien. Klien harus didorong untuk bisa memiliki kemandirian, terutama klien harus memperhatikan hak-hak anaknya. Sehingga salah satu alternatif yang diupayakan Dinsos adalah akan mengirim ke panti asuhan di Kota Cirebon.

“Kami Dinsos akan peduli. Tetapi bukan dengan cara terus-terusan memberikan bantuan dan dia tetap tinggal di situ. Kami akan upayakan anak-anaknya bisa sekolah dan mendapatkan hak. Kami juga mengupayakan dengan RT/RW-nya agar dia bisa tinggal dengan keluarga yang lain. Nanti kita bantu ke arah sana,” imbuh Siti. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *