Tak Melaut Lagi, Nelayan Cirebon Kini Kerja Serabutan

oleh -2 views
TERSANDAR. Puluhan kapal nelayan pesisir Kota Cirebon tersandar di sungai. Tak melaut selama cuaca kurang baik.

RAKYATCIREBON.ID – Banyak nelayan pesisir Kota Cirebon menepikan kapalnya ketimbang pergi ke laut. Cuaca buruk yang terjadi belakangan ini, membuat nelayan tak berani melaut. Selain tangkapan menurun, faktor keselamatan jadi pertimbangan.

Nelayan asal Pesisir Selatan Kelurahan Panjunan, Misja mengaku sudah tiga bulan tak melaut. Sebagai ganti cari makan, dia mengandalkan kerja seadanya di darat. “Kadang ke proyek bangunan apa saja saya kerjakan,” ujar dia kepada Rakyat Cirebon, kemarin.

Misja biasanya melaut ikut kapal milik orang. Sekali melaut bisa dua hari dua malam di atas kapal. “Kalau dipikir-pikir lebih enak di darat. Kalau di laut (saat ini, red) risiko tinggi,” imbuhnya.

Nelayan lainnya, Asep Supanda mengakui, kebanyakan kapal nelayan asal Kota Cirebon masih tradisional dengan kapasitas lebih kecil. Sehingga, rentan jika digunakan dalam kondisi hujan dan angin.

Selama tidak melaut, banyak nelayan memilih memperbaiki kapal atau alat tangkap ikan lainnya, agar segera bisa dipakai melaut lagi. “Kalau anginnya bagus ke laut. Sekarang nggak melaut karena cuaca,” jelas pria beranak satu ini.

Ketua Rukun Nelayan RW 10 Pesisir Utara, Sodikin membenarkan, saat ini banyak warga pesisir banting setir sekadar untuk makan. Kerja bangunan jadi primadona. Namun tak semua kebagian jatah kerja. Yang lainnya terpaksa serabutan.

“Sudah tiga bulan nggak melaut. Masing-masing punya kegiatan saat ini. Ada yang bantu istri dagang. Ada yang ke bangunan sekadar untuk cari makan,” jelas Sodikin.

Nasib nelayan di pesisir Kota Cirebon memang tak menentu. Saat cuaca buruk banyak yang kehilangan pencaharian. Pun jika melaut, hasil tangkapan hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari.

Saat ini, ada sekitar 85 perahu milik nelayan pesisir Kota Cirebon. Sebagian besar di antaranya tersandar di tepi sungai atau muara. Pemilik kapal tak berani berspekulasi saat cuaca kurang baik. Risiko karamnya besar.

“Hasil tangkapan biasanya diserap sama tengkulak. Harga per kilo sesuai jenis ikannya,” tandas Sodikin. (wan)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.