Sehari Tembus 210 Orang Positif di Indramayu, 13 Meninggal Akibat Covid

oleh -269 views
BERTAMBAH. Para relawan melakukan proses pemakaman terhadap jenazah salah satu pasien Covid-19. FOTO: ISTIMEWA

RAKYATCIREBON.ID – Perkembangan Covid-19 di Kabupaten Indramayu semakin memburuk. Dalam waktu sehari saja pada Minggu (20/6) kemarin jumlah terkonfirmasi positif baru mencapai 210 orang, dan ada 13 pasien yang meninggal akibat terpapar virus corona.

Berdasarkan data pemantauan Covid-19 Kabupaten Indramayu yang dirilis Dinas Kesehatan setempat, sampai saat ini total terkonfirmasi positif sudah mencapai 9.795 setelah ada penambahan 210 kasus baru dalam waktu sehari. Sedangkan pasien terpapar Covid-19 meninggal dunia sudah sebanyak 263 termasuk 13 kasus kematian terbaru dihari yang sama.

Penambahan kasus yang juga mengejutkan terjadi pada 18 Juni 2021 lalu. Jumlah terkonfirmasi bertambah 159 orang, dan ada 5 orang meninggal dunia. Dihari yang sama itu terdapat 17 orang yang dinayatakan sembuh, dan ada 137 orang masih dalam perawatan atau isolasi. Sehari kemudian, Sabtu (19/6), tercatat ada penambahan 145 orang terkonfirmasi positif, 5 meninggal, 19 sembuh, dan 121 masih dalam perawatan atau isolasi.

“Sekarang pasien cepat sekali memburuk keadaannya terus meninggal,” jelas Juru Bicara Satgas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Indramayu, dr H Deden Bonni Koswara MM.

Semakin memburuknya perkembangan Covid-19 yang dimungkinkan sudah masuknya varian baru ke Indramayu, ia menyatakan bahwa di seluruh kabupaten/kota sudah mengalami fenomena yang sama. Bahkan kondisi ini sudah masuk pembahasan dalam rapat satgas. Meski demikian tetap harus diwaspadai secara ekstra dengan tidak memastikannya, karena dalam menyimpulkannya perlu adanya tes atau pemeriksaan whole-genome sequencing (WGS).

“Memang kecurigaan ada tapi tidak bisa langsung diambil kesimpulan, karena harus dilakukan pemeriksaan WGS. Dan WGS di Indonesia masih jarang, hanya difokuskan untuk daerah tertentu seperti Kudus dan Bangkalan,” terangnya.

Deden memastikan, bahwa daerah tidak bisa melakukan pemeriksaan WGS dikarenakan peralatan yang sangat mahal. Juga dalam pengoperasian alatnya dilakukan oleh tenaga ajli genetik biomolekuler. “Kalau pun iya memang terdeteksi karena virus delta juga kalau kitanya sebagai masyarakat tidak patuh prokes angka kasusnya tetap akan meningkat terus,” paparnya.

Disinggung sudah banyak orang terpapar Covid-19 yang meninggal dunia, menurutnya dikarenakan menganggap sakit biasa atau ada ketakutan. “Salah satunya masyarakat yang menyembunyikan sakitnya karena takut di Covid-kan, atau menganggap sakit biasa. Jadi bukan karena tidak bisa terkirim ke rumah sakit,” pungkasnya. (tar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.