Sasaran Rutilahu Tidak Terarah

oleh -6 views
TIDAK TERSENTUH. Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di Kelurahan Kemantren belum tersentuh meskipun sudah sering di data.
TIDAK TERSENTUH. Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di Kelurahan Kemantren belum tersentuh meskipun sudah sering di data.

RAKYATCIREBON.ID – Rumah tidak layak huni (rutilahu) di Kabupaten Cirebon masih banyak. Jumlahnya ribuan. Namun, tidak seluruhnya program pemerintah itu menyentuh masyarakat. Padahal, lokasi rutilahu masih di Ibu Kota Sumber.

Di Kelurahan Kemantren misalnya, masih banyak rutilahu yang belum dibangun. Ada juga yang sudah, tapi ambruk lagi. Rata dengan tanah. Sampai ditinggal pemiliknya.

Warga Blok Karanganyar, Kelurahan Kemantren, Edi satu dari sekian warga yang belum mendapat program rutilahu. Kondisinya sudah memprihatinkan. Tiang depan rumahnya sudah di sangga (ganjel, red) dengan kayu dolken agar tak ambruk.

Edi mengaku, rumahnya sudah di data sejak 2015-2016 masuk dalam rutilahu. Bahkan, terakhir di data di tahun 2019. Tapi, gak pernah dapat bantuan. Di tahun 2019 pun sempat di tawari genteng-nya saja. Nyatanya nol. Cuma pepesan kosong.

“Ditinjau pihak kelurahan sudah. Di data LPM sudah. Sampai rumah pun di foto. Tapi, tidak ada tindaklanjutnya. Bli jelas (gak jelas),” ujar Edi didampingi menantunya, Rahmat, kemarin.

Menurutnya, entah kenapa bisa seperti ini. Ia tidak mengerti. Sampai sering dilewat. Mestinya, bisa melihat mana yang prioritas dan tidak. Apalagi, data rutilahu sudah tercatat di LPM maupun kelurahan.

“Tapi apalah daya. Kita cuma orang biasa. Gak punya power. Selain berkeluh-kesah,” ucapnya.

Ia berharap pemerintah tidak tebang pilih dalam memberikan bantuan. Harus tepat sasaran. Karena keberadaan pemeritah itu untuk berbuat adil kepada rakyatnya. Sesuai sila ke lima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Artinya pemeritah harus adil. Seadil-adilnya,” terangnya.

Selain genteng rumah yang hampir ambruk, kondisi tembok bangunan pun sudah keropos. Perlu ada pemugaran.

“Karena tidak ada bantuan. Jadi ditambal-tambal sendiri. Di ganjel-ganjel sendiri,” ungkapnya.

Yang lebih parah lagi, kata Rahmat menimpali mertuanya, ada satu rutilahu yang dapat bantuan, baru berjalan setahun setelah di rehab, ambruk. Rata dengan tanah.

“Rumahnya pak Bandi. Tepat dibelakang rumah mertua saya. Kini Bandi tidak lagi tinggal disitu. Ikut anaknya. Eks rumah pak Bandi kini dijadikan kandang ayam dan jemuran baju,” pungkasnya. (zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.