Sakowes Dibuka, Tempat Singgah Goweser Trek Sarwadadi

oleh -27 views

RAKYATCIREBON.ID – Bersepeda jadi olahraga yang digemari banyak kalangan. Tak heran, tiap pagi atau sore hari mudah sekali dijumpai hilir mudiknya para goweser, sebutan akrab pesepeda di Cirebon.

Salah satu trek favorit para goweser ialah trek Sarwadadi di Jalan Cirebon Girang arah ke Pancalang. Selain aspalnya relatif mulus, di trek ini juga ada tanjakan Sarwadadi yang berlokasi di Desa Sarwadadi, Talun, Cirebon. Tanjakan yang cukup menantang sekaligus memacu adrenalin para goweser.

Di samping itu, trek Sarwadadi juga menawarkan panorama pesawahan yang asri ditambah semilir angin yang segar. Jelas menambah gairah para goweser menjajal trek ini. Apalagi beramai-ramai.

Trek ini makin lengkap karena goweser juga bisa menikmati sensasi persinggahan Saung Kopi Gowes (Sakowes) yang baru saja grand opening, Sabtu (10/4). Sebuah tempat nongkrong bergaya joglo dan limasan khas rumah Jawa.

Lokasi Sakowes masih di trek Sarwadadi Jalan Girang, Desa Sarwadadi. Di sini, goweser bisa melepas dahaga usai membakar kalori saat bersepeda. Dengan aneka kuliner tempo dulu khas pedesaan.

Pemilik Sakowes, H Muhamad Ramdani mengatakan, hadirnya Sakowes menjawab kebutuhan para goweser yang melintas rute Jalan Cirebon Girang. “Karena di Jalan Cirebon Girang sampai Pancalang belum ada titik pemberhentian untuk goweser,” ujarnya.

Ramdani menambahkan, yang membedakan Sakowes dengan tempat mongkrong lain yang sama-sama bergaya tempo dulu ialah otentisitas bangunan. Menurutnya, joglo dan limasan yang diaplikasikan di Sakowes merupakan bangunan asli yang didatangkan langsung dari Jawa Tengah.

“Bangunan joglo kita datangkan dari Jawa bahkan sudah berumur 100 tahun. Kemudian bangunan limasan berumur 200 tahun. Kita aplikasikan di Sakowes,” katanya.

Dominasi bangunan dinding Sakowes memnapilkan bata ekspos. Di berbagai sudut juga teronggok lampu-lampu damar bercahaya kuning terang. Khas tempo dulu. “Sangat cocok untuk yang merindukan suasana zaman dulu. Bisa datang ke Sakowes,” ucap Ramdani.

Sesuai namanya, Sakowes juga menampilkan ornamen sepeda tua di banyak sisi. Mulai dari kerangka damar, akses lalu lalang para pengunjung sampai menjadi ornamen di meja makan. “Sepeda tua ini kami dapat dari petani dan kolektor. Ada yang usianya dari tahun 1953 produksi Jerman. Ada di Sakowes,” kata Ramdani.

Soal menu, Sakowes menyajikan menu-menu khas pedesaan yang diolah dan disajikan secara apik dengan cita rasa otentik. Sepeti semur jengkol, olahan seafood, ikan, sayur loder dan banyak lagi. Tentu saja harganya juga harga pedesaan. Terjangkau tapi berkelas.

Bahkan di plang promo tertulis harga makanan mulai dari Rp2 ribu. Sedangkan harga minuman mulai dari Rp5 ribuan. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *