Produk UMKM Majalengka Go Digital

oleh -88 views
UMKM GO DIGITAL. Ibu Julaeha pembuat kue Jinten dan Stick yang sudah memasarkan produknya melalui marketplace.

RAKYATCIREBON.ID – Hanya bermodal terigu, mentega, bawang putih, minyak dan bahan baku lain untuk membuat kue Jinten (Kerupuk Pangsit) dengan biaya Rp155 ribu, Julaeha, pemilik Kue Jinten “Lysna” mulai membuka usahanya pada 2018.

Modal Rp155 ribu  itu menghasilkan 20 bungkus plastik besar Jinten. Sebungkus Jinten saat itu dibanderol Rp10.000, sehingga ia meraup omzet Rp 200.000 per hari. Kala itu, ia hanya memasok satu toko kelontong. Dari Rp200.000 yang diterima, Julaeha menambah produksinya.

Pemasaran pun bertambah. Hasil penjualan itu ia kembangkan sehingga modal bertambah besar. Pada 2020, sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari Program Keluarga Harapan (PKH), Julaeha memilih mundur.

Karena dirinya merasa masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan program tersebut. Atas keputusan itu, pemerintah memberikan ganti dari program PKH menjadi Program Kewirausahaan Sosial (ProKUS). Tujuannya tentu saja untuk kemandirian KPM agar tidak terus mengandalkan bantuan dari pemerintah.

Dari modal stimulus pemerintah tersebut, ia mulai memasok produk hasil tangannya itu di toko-toko sekitar. Tak butuh waktu lama Kue Jinten “Lysna” habis. Pada hari kedua, Julaeha menambah barangnya di toko. Tak ayal, 40 bungkus Kue Jinten habis dalam sehari.

“Selain mendapat modal, kita juga mendapatkan pendampingan dari mentor ProKUS, mulai dari legalitas usaha, marketplace, hingga kualitas produksi. Untuk marketplace sendiri, Saya dibantu anak saya,” ujar Julaeha, Jumat (15/10).

Seiring waktu, satu demi satu toko di Desa Garawangi kecamatan Sumberjaya dijajaki Julaeha untuk memasok barangnya. Kini, nyaris semua toko sudah dipasok Jinten Lysna.

“Untuk luar kota yang dekat biasanya mereka pesan online melalui marketplace maupun whatsapp,” ungkap ibu lima anak ini yang kelimanya menjadi akronim dari merek “Lysna”.

Kini, dalam sehari tidak kurang dari 8 kilo Ibu Julaeha memproduksi kue Jinten. Bahkan, tidak sampai disitu, dirinya pun membuat pengembangan usaha dengan memproduksi makanan cemilan Stick.

Sebagai informasi, ProKUS yang digagas Kementerian Sosial (Kemensos) diharapkan bisa tumbuh dan berkembang bersama dengan usaha ekonomi mikro, melalui pendampingan dan inkubasi bisnis yang terus dilakukan.

“Nantinya, ProKUS diharapkan bisa meningkatkan standar kehidupan KPM secara berkelanjutan misalnya di bidang industri rumah tangga, jasa, kuliner, kerajinan tangan, industri kreatif, budidaya pertanian dan agrowisata, ” ujar Kepala Dinas Sosial Majalengka, dr H Gandana Purwana MARS.

Menurut Gandana, ProKUS merupakan salah satu upaya mempercepat upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia, pihaknya berharap, para mentor yang sudah ditunjuk untuk mendampingi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bisa menggali potensi para KPM Graduasi.

“Silahkan kembangkan usaha yang dimiliki KPM, lebih bagus produk lokal Majalengka agar ekonominya bisa meningkat. Dinsos mengapresiasi pertemuan sekarang, tidak dikasih modal terus dilepas,” ujarnya.

Direktur Oorange pusat inkubator Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), Rivani SIP MM DBA mengatakan, di Majalengka ProKUS ini sudah berjalan tahun kedua. Momentum ini bisa jadi ajang koordinasi untuk KPM Graduasi.

Menurut Rivani, ada 300 KPM yang tersebar di 26 kecamatan seluruh Majalengka. Mereka akan didampingi oleh 10 orang mentor yang sudah lulus pelatihan.

“Diharapkan, Mentor bisa bekerjasama dengan seluruh stakeholder sehingga terbentuknya ekosistem KPM yang tujuannya agar KPM bisa naik kelas dan bisa terlepas dari Program Keluarga Harapan,” ujarnya.(hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.