Polres Ciko Bidik Pimpinan Family 100

oleh -3 views
Dua Tersangka Sudah Disel,  Ajukan Pembekuan Rekening Perusahaan

KEJAKSAN – Kasus penipuan berkedok investasi bodong yang dilaksanakan Family 100 terus didalami oleh Polres Cirebon Kota (Ciko).

polres ciko
Polres Ciko beri keterangan soal Family 100. Foto: Fajri/Rakyat Cirebon

Setelah menetapkan dua tersangka dan menjebloskannya ke dalam penjara, Polres Ciko kini tengah membidik tersangka baru dalam kasus tersebut. Setidaknya, pimpinan Family 100 tengah diburu Polres Ciko.

Hal itu disampaikan langsung Kapolres Ciko, AKBP Adi Vivid Agustiadi Bachtiar SIK MHum MSM, kepada sejumlah awak media, di Mapolres Ciko, Selasa (20/12) kemarin.

Pihaknya telah menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan penipuan berkedok investasi Family 100.

“Sampai sejauh ini masih dalam proses penyidikan, sudah ada 2 tersangka dan sudah dilakukan penahanan. Keduanya sebagai karyawan Family 100 yang bertindak sebagai pengumpul uang atau bendahara,” ungkap Adi.

Ia menambahkan, karena penyidikan atas kasus tersebut terus berlanjut, maka dipastikan akan ada tersangka lainnya.

“Pasti akan ada tersangka yang lain. Kita tidak akan berhenti di dua tersangka ini. Siapa pimpinannya, siapa yang bertugas pencari nasabah. Pimpinannya pasti akan kita proses,” katanya.

Kedua tersangka yang telah ditahan, kata Adi, untuk sementara ini dikenakan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan.

Namun, tidak menutup kemungkinan akan dikenakan juga UU mengenai perbankan, karena modus penipuan dilakukan dengan menyuguhkan sistem investasi.

“Termasuk kita juga sedang ajukan pembekuan rekening yang berkaitan dengan Family 100. Lagipula, perusahaan ini tidak terdaftar dimanapun. Artinya, perusahaan ini bodong,” kata pria yang merupakan putra dari mantan Kapolri, Dai Bachtiar itu.

Disinggung mengenai nilai kerugian yang diderita para nasabah atau anggota Family 100, Adi belum bisa memastikan. Diperlukan perhitungan tepat untuk mengetahui jumlah anggota dan uang yang masuk ke Family 100.

“Yang pasti sejauh ini sudah dua orang yang melaporkan secara resmi. Tapi yang lainnya mungkin masih menunggu perkembangan,” katanya.

Sementara itu, Ketua RW 06 Tanda Barat, Otong Djuanda Dinaya menyatakan, rumah yang ditempati dan diduga menjadi kantor pusat family 100 merupakan rumah miliki Dadang, di mana warga sekitar tidak mengetahui aktivitas di rumah kontrakan itu.

“Untuk izin tinggal saja tidak ada laporan ke pengurus RW, apalagi izin usaha,” ungkap Otong saat diwawancarai wartawan koran ini di rumahnya, kemairn.

Di rumah tersebut, lanjut Otong, bukan sekali dua kali ada banyak orang berkerumun namun dirinya tidak mengetahui aktivitas yang ada.

Namun, setelah klimaks pada hari Jumat lalu digerebek ratusan massa, Otong baru mengetahui ternyata rumah tersebut dijadikan kantor bagi usaha investasi bodong yang merugikan banyak nasabah, dan ternyata kerumunan yang sering terjadi di depan rumah tersebut adalah nasabah yang menunggu haknya diberikan.

“Di sana memang sering banyak orang kumpul, seperti orang yang sedang menunggu, tapi awalnya kami kan tidak tahu sedang apa,” lanjut Otong.

Setelah sebelumnya kosong, dikatakan Otong, rumah tersebut kembali dikontrakan sejak lima bulan lalu setelah lebaran. Saat itu, sebutnya, ada pengontrak yang hingga saat ini susah diajak komunikasi oleh warga lainnya.

“Sejak dikontrakkan lagi, orangnya tertutup, kita sudah pernah berikan formulir perpindahan warga untuk diisi, namun tidak direspons, untuk kerja bakti dan lain-lain juga tiudak ada partisipasi,” jelasnya.

Belakangan diketahui, informsai yang didapatkan Otong menyebutkan bahwa usaha investasi bodong bernama Family 100 tersebut sudah beberapa kali ditolak di tempat lain. (jri/sep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.