PMI Terlantar di China Bisa Pulang, SBMI Apresiasi Kemenlu

oleh -32 views
BAHAGIA. PMI terlantar di China, Sunenti (berkacamata) berbincang dengan kerabatnya. FOTO: ISTIMEWA

RAKYATCIREBON.ID – Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terlantar di China asal Kabupaten Indramayu akhirnya bisa pulang ke kampung halamannya. Atas hal ini Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Indramayu mengapresiasi kinerja Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia.

Disampaikan Ketua SBMI Cabang Indramayu, Juwarih, pihaknya memuji sekaligus mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Republik Indonesia yang telah berhasil memulangkan PMI asal Indramayu dari China pada Senin (7/6) lalu.

Adalah Sunenti asal Blok Tengah, Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu. Perempuan 43 tahun itu kini sudah bisa pulang ke kampung halaman setelah sebelumnya sempat tertahan di Shanghai China, karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit.

Dikatakan, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) melalui Direktorat Perlindungan WNI dan BHI diketahui memfasilitasi seluruh biaya agar Suneti bisa pulang. “Karena merekalah (Kemlu, red) yang berkoordinasi dengan KJRI di Shanghai sehingga Sunenti akhirnya bisa pulang,” jelasnya, Rabu (9/6).

Dipaparkan, Sunenti merupakan PMI yang bekerja di Sanghai China. Ia diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) karena diberangkatkan secara ilegal atau unprosedural. Di China Sunenti diketahui mengalami sakit komplikasi asam akut dan infeksi lambung, kemudian tiba-tiba sakit kepala dan langsung tidak sadarkan diri atau koma.

“Sunenti dirawat di rumah sakit dan sempat tertahan karena keluarga tidak sanggup melunasi besarnya biaya perawatan,” ungkap Juwarih.

Menurutnya, Sunenti yang hanya merupakan seorang janda dari kalangan keluarga petani diketahui harus melunasi sisa biaya rumah sakit sebesar Rp57 juta. Pihak keluarga sebelumnya sudah mengirim uang ke rekening teman Sunenti, yaitu Dewi untuk membayar biaya pengobatan. Total secara keseluruhan keluarga sudah mengeluarkan biaya Rp 70,4 juta, namun pihak rumah sakit masih meminta  kekurangan biaya sebesar Rp57 juta.

“Uang tersebut sebagian didapat keluarga dari hasil menggadaikan rumah, akan tetapi biaya pengobatan tersebut tetap masih kurang. Sisa biaya yang harus dibayar itu semuanya dicover pemerintah, termasuk biaya kepulangan Sunenti ke tanah air setelah merespon surat pengajuan dari SBMI,” terangnya.

Diceritakan Juwarih, setibanya di rumah Sunenti mengaku sangat bahagia. Terlebih lagi ia sudah lama ingin pulang menemui orang tua dan kerabatnya. Meski demikian ia bersyukur masih diberi kesehatan sehingga bisa berkumpul kembali dengan keluarga. “Sekarang rasa sedih itu terobati setelah Sunenti pulang ke Indonesia dan berkumpul lagi dengan keluarganya,” tandas dia. (tar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.