Pesanan Melonjak Lagi, Petani Bibit Berusaha Bangkit

oleh -17 views

RAKYATCIREBON.ID–Pengusaha bibit di Kabupaten Majalengka kembali bangkit setelah ada kebijakan pemerintah yang kembali membuka akses ekonomi, sebagai awal kebangkitan dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

Memasuki musim penghujan yang mulai merata di wilayah Majalengka dan adanya pelonggaran PSBB membawa angin segar bagi petani bibit.

Bahkan, para petani pembibitan tanaman buah di wilayah Kecamatan Sukahaji, Rajagaluh dan Sindang mulai kebanjiran pesanan.

Hal itu bisa dilihat dari tingginya pesanan bibit dari luar daerah. Seperti Indramayu, Cirebon, Bandung dan Jakarta.

Menurut Hadi Sunardi, pengusaha bibit asal Rajagaluh mengatakan, memasuki penghujan kali ini, pesanan bibit mulai meningkat, terutama untuk beberapa jenis bibit.

Diantaranya adalah bibit mangga, jambu, petai, jeruk, kelengkeng, durian hingga bibit tanaman pete dan jengkol.

Sebelumnya bisnis pembibitan sempat lesu, selain adanya kebijakan PSBB yang membuat ruang gerak penjualan terbatas, kemarau panjang juga menjadi penyebab lesunya penjualan bibit.

“Kemarin saat ada kebijakan PSBB dan lockdown di beberapa daerah, bisnis kami otomatis lumpuh. Bahkan banyak bibit yang tidak terurus, ditambah dengan cuaca panas yang ekstrim yang menyebabkan tidak sedikit bibit yang layu,” terangnya.

Hal senada diungkapkan Sadeli. warga Desa Salagedang itu menuturkan, di musim penghujan seperti ini para petani pembibitan, penangkaran bibit pohon buah buahan, rata rata kebanjiran pembeli.

“Mereka biasanya datang dari luar Kabupaten Majalengka. Biasanya mereka membeli dalam jumlah partai besar. Bahkan tak jarang para pembeli datang dengan membawa kendaraan sendiri,” tandasnya.

Disinggung soal harga jualnya, pria yang sudah sepuluh tahun bergelut dengan pembibitan itu mengatakan, hal itu tergantung pada jenis bibit dan besar kecilnya ukuran tanaman.

Misalnya, jenis bibit buah mangga arumanis dihargai mulai dari Rp50 ribu sampai Rp70 ribu per bibit. Begitu pula jenis bibit bibit yang lain. “Semakin tinggi pohonnya semakin tinggi pula harganya,” ujar Sadeli.

Hal yang sama di katakan Wawan. Warga Desa Gunung Kuning Kecamatan Sindang itu menjelaskan, petani pembibitan di Gunung Kuning rata rata kebanjiran pembeli.

“Maklum sekarang musim penghujan, jadi banyak pembeli. Tapi sebaliknya ketika musim panas pembeli sangat jarang yang datang,” imbuhnya. (pai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.