Perluasan Wilayah Harus Berbasis Data

oleh -10 views
Pegiat Budaya, R Chaidir Susilaningrat
Pegiat Budaya, R Chaidir Susilaningrat

RAKYATCIREBON.ID – Wacana perluasan wilayah Kota Cirebon terus bergulir. Direspon semangat dan antusias oleh para petinggi Kota Cirebon. Tapi sebaliknya ditanggapi sinis oleh para elit Kabupaten Cirebon. 

Mereka sangat keberatan bila 6 (enam) kecamatan, 61 (enam puluh satu) desa di wilayahnya, harus diserahkan ke daerah lain. Sementara itu para petinggi Kota kompak sependapat bahwa wilayah administrasi Kota Cirebon yang cuma 5 kecamatan, 22 kelurahan, perlu diperluas. Alhasil, hubungan komunikasi daerah kakak-beradik di Cirebon inipun kembali gerah.

Pegiat Pegiat Budaya sekaligus Pendiri Komunitas Pusaka Cirebon Kendi Pertula, R Chaidir Susilaningrat menegaskan ada beberapa hal yang bisa dicermati. Menurutnya wacana perluasan Kota Cirebon semestinya jangan sekedar asal kepèngèn  lebih luas, lebih besar saja. Tapi akan lebih baik bila dimunculkan dengan indikator yg jelas dan terukur. 

“Jelas tujuan dan sasarannya apa, serta jelas parameternya, didukung dengan data, aspek legalitas maupun best practice di kota-kota lain sebagai pembanding,” kata Chaidir.

Pria yang sekaligus merupakan pegawai senior Pemkab Cirebon itu pun membandingkannya dengan Kota Bogor yang tetap dikenal sebagai salah satu kota besar di Jawa Barat. Meskipun hanya meliputi 6 (enam) kecamatan. Atau yg lebih kecil lagi, Kota Cimahi yang hanya 3 (tiga) kecamatan dan Kota Banjar, 4 (empat) kecamatan. 

Selain itu, issu atau wacana perluasan wilayah Kota Cirebon ini hanya bergulir  di tataran elit saja. Tidak menyeluruh. Buktinya, dikalangan masyarakat tidak menyentuh. “Ya adem-adem saja di masyarakat bawah. Mereka lebih menuntut kualitas pelayanan publik yang lebih baik, ketimbang urusan perluasan wilayah administrasi,” terangnya. 

Bahkan, yang lebih diharapkan, kerjasama antar daerah Kota dan Kabupaten dalam pelayanan publik. Agar lebih menguntungkan bagi masyarakat Wong Cirebon dengan segala aspek kehidupan dan penghidupannya baik di Kota maupun Kabupaten Cirebon. 

Wilayah yang lebih luas dan jumlah penduduk yang lebih banyak akan memberikan beban tanggung jawab yang lebih berat dalam pelayanan publik dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, perlu kajian yang matang, logis dan realistis agar wacana ini menjadi lebih jelas dan terukur.

Salah satu faktor yang terpenting untuk terwujudnya perluasan wilayah ini, tentunya adalah dukungan kerelaan Kabupaten Cirebon memberikan sebagian wilayahnya kepada Kota Cirebon. “Kalau diminta sampai 60 desa lebih, nampaknya terlalu berlebihan, sampai desa-desa yang jauh dari jangkauan kota Cirebon seperti Desa Bungko, Suranenggala, atau desa Buyut misalnya, masih lebih layak dalam wilayah administrasi Kabupaten Cirebon,” tuturnya. 

Tapi kalau hanya beberapa desa yg berbatasan langsung dengan Kota Cirebon, mungkin kata Chaidir lebih realistis. Sehingga Kota Cirebon dari 22 (dua puluh dua) kelurahan bisa berkembang sampai 30-35 kelurahan. “Itupun kembali saya tekankan diperlukan kajian yang cermat, terukur dan meliputi berbagai aspek, serta komunikasi yg lebih baik di antara kedua daerah,” pungkasnya. (zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.