Perayaan Kue Bulan, Simbol Perlawanan Rakyat Tiongkok Terhadap Mongolia

oleh -1 views
LEGIT. Kue bulan menjadi simbol perlawanan bangsa Tiongkok kepada bangsa Mongol. Kue ini banyak ditemui saat bulan September.

RAKYATCIREBON.ID – Selasa (21/9) bertepatan dengan tanggal 15 bulan 8 dalam penanggalan Imlek, warga Tionghoa di seluruh dunia menggelar perayaan kue bulan  (Tiong Ciu). Di Tiongkok, perayaan ini dikenal dengan sebutan Zhongqiu Jie.

Pegiat Budaya Tionghoa asal Cirebon, Jeremy Huang Wijaya mengatakan, di dunia barat lebih dikenal dengan sebutan Mid Autumn Festival. Karena perayaan ini adalah puncak musim panen.

Menyambut bulan Purnama, pada hari itu bulan bersinar utuh. Pada saat itu seluruh keluarga berkumpul menikmati indahnya sinar bulan Purnama.

Jeremy menambahkan, perayaan Tiong Ciu Pia dilakukan sejak tahun ke-2 masa Kaisar Qin Shi Huang dari Dinasti Qin (221-206 SM). Bulan 8 tanggal 15 berkumpul penduduk desa di Wu Kao San menikmati kue yang terbuat dari terigu dan gajah dibuat bulat mirip bulan.

“Ada juga dari info lain menyebutkan, sejarah Tiong Ciu Pia berasal dari Dinasti Ming dikaitkan dengan pemberontakan heroik Zhu Yuan Zhang memimpin para petani Han, melawan pemerintahan Mongol dari Dinasti Yuan,” ujar dia.

Saat itu, lanjut Jeremy, Zhu Yuan Zhang bingung menyatukan rakyat melawan Mongol. Kemudian ada yang memberikan ide untuk menyebarkan berita gosip bahwa ada bencana besar yang akan menimpa negeri di Tiongkok saat itu. Membagikan kue bulan yang dibagikan kepada rakyat Han yang akan menemukan pesan revolusi tanggal 15 bulan 8 melawan Mongol.

“Pada saat membukanya dari kue bulan yang dibagikan. Pada tanggal tersebut rakyat berkumpul bersatu melawan Mongol. Tetapi ada sumber lain menyatakan kue bulan telah tercatat pada zaman Dinasti Song 920-1279,” jelas dia.

Dijelaskan Jeremy, kue bulan memiliki rasa rasa manis dan asin. Isinya ada yang berisi kuning telur, tausa (kacang merah), kacang hijau dan buah buahan. Kue bulam terbuat dari tepung gandum, tepung terigu, minyak sayur dan gula.

“Sebelum Pandemi, kue bulan dirayakan bersama keluarga, disajikan sambil minum teh hangat dan dihiasi lampion lampion menikmati keindahan bulan yang bersinar utuh dan terang,” kata Jeremy.

Hingga kini, kue tradisional kebanggaan warga Tionghoa ini masih bisa ditemui di toko kue maupun pasar tradisional di Kota Cirebon. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.