Penurunan Mobilitas Warga di Kota Cirebon Baru 15 Persen

oleh -8 views
JALAN ALTERNATIF. Pengendara sepeda motor memilih untuk melintasi rel kereta api bukan pada perlintasan sebenarnya untuk menembus jalan alternatif dari arah Klayan menuju Pilang, kemarin. Dibantu warga sekitar untuk melewati rel kereta api dengan menggotong motornya. FOTO: NURUL FAJRI/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID – Pemerintah pusat dan Provinsi Jawa Barat menggunakan indikator berbeda dalam mengukur tingkat mobilitas masyarakat selama PPKM Darurat. Tapi keduanya sama-sama memanfaatkan teknologi yang berkaitan dengan ponsel.

Hal tersebut disampaikan Ketua Harian Satgas Covid-19 Kota Cirebon, Drs Agus Mulyadi MSi, ditemui usai rapat dengan Badan Anggaran DPRD Kota Cirebon, di gedung dewan, Rabu (14/7). Ia menyampaikan perbedaan indikator tersebut.

“Kalau pemerintah pusat menggunakan alat ukur berdasarkan facebook mobility, google traffic, dan indeks cahaya malam. Sedangkan pemprov pakainya waze untuk mengukur mobilitas masyarakat. Tapi sama-sama basisnya sinyal HP,” ungkap Gusmul – sapaan akrab Agus Mulyadi.

Jika mengacu hasil evaluasi sementara pemerintah pusat pada akhir pekan lalu, penurunan mobilitas masyarakat di Kota Cirebon baru sekitar 15 persen. Sedangkan versi Pemprov Jabar, penurunannya sudah mencapai 43 persen.

“Jadi kalau berdasarkan pemerintah pusat, yang (zona) hitam itu penurunan mobilitasnya kurang dari 10 persen, kalau merah 10-20 persen, dan kuning 30 persen,” jelasnya.

Gusmul menambahkan, Pemkot Cirebon menargetkan dapat menekan tingkat pergerakan masyarakat hingga minimal 30 persen dibanding hari-hari normal. Itupun dengan pertimbangan pencegahan Covid-19 varian alfa. Tapi jika menimbang untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 varian delta, maka targetnya bisa hingga 50 persen.

“Kita harus tekan terus tingkat aktivitasnya, karena berkorelasi. Artinya, menekan aktivitas atau mobilitas warga, maka dapat menekan penambahan jumlah kasus Covid-19. Kita kejar dulu target 30 persen penurunan mobilitasnya, meskipun tidak mudah juga,” tuturnya.

Sementara terpisah, penyekatan yang dilakukan di sejumlah titik akses masuk Kota Cirebon membuat sejumlah pengendara sepeda motor harus melintasi rel kereta api bukan pada titik perlintasan. Bahkan motornya bukan dikendarai, melainkan digotong.

Seperti yang terjadi tidak jauh dari titik perlintasan rel kereta api Jalan Slamet Riyadi Krucuk. Karena di Bundaran Krucuk ditutup, pengendara motor dari arah Klayan harus melewati jalan alternatif menuju kawasan Pilang. Hanya saja buntu karena terpotong rel kereta api.

“Kita dari arah Gunungjati tidak bisa masuk ke Kota Cirebon karena ditutup semua aksesnya. Jadi terpaksa lewat ke sini, nanti melanjutkan melalui jalan alternatif ke Pilang,” kata Ridho Maulana, seorang pengendara motor.

Di lokasi tersebut, terlihat beberapa warga yang membantu menggotong motor untuk melewati rel kereta api. Para pengendara motor rata-rata memberi uang terima kasih kisaran Rp10 ribu kepada warga setempat yang membantu. (jri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.