Pembelajaran Sastra yang Demokratis, Pentingkah?

oleh -169 views
Hendi Hidayat, M.Pd., Mahasiswa S3 – Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris / Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Hendi Hidayat, M.Pd., Mahasiswa S3 – Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris / Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon

RAKYATCIREBON.ID – Meskipun Kurikulum berubah dalam dekade terakhir, pembelajaran Bahasa Inggris tetap mengadopsi genre/teks. Berbagai jenis teks tetap digunakan untuk mengembangkan baik sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam berkomunikasi dengan Bahasa Inggris yang dituangkan dalam kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Ada beberapa contoh jenis teks yang diajarkan di sekolah, di antaranya adalah teks prosedur, laporan, deskripsi, narasi, berita, eksposis, eksplanasi, prosedur, anekdot, dan sebagainya.

Kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran berbasis teks tersebut pun cukup beragam yakni mengembangkan kosa kata, memberi pendapat, memprediksi, menempatkan kata-kata terkait ke dalam kelompok, memunculkan, mencocokkan kosakata kunci dengan gambar; memprediksi konten teks dari bentuk visual (gambar, video); dan memahami genre/tipe teks dari kata kunci, ekspresi, serta penanda wacana.

Meskipun demikian, permasalahan timbul dari pemaparan di atas bahwasannya semua jenis teks diperlakukan sama baik penyampaian materi maupun penilaian penguasaan materi atau kompetensi. Sedangkan dari berbagai jenis teks yang diajarkan di sekolah, beberapa diantaranya merupakan teks sastra seperti narasi, legenda, naskah drama, puisi, lirik, dan sebagainya. Sebagai contoh, uji pemahaman teks narasi sering dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Hal tersebut mungkin terdengar biasa, namun pemaksaan pemahaman pada satu jawaban membuat dangkal pembelajaran sastra yang seyogyanya bersifat pembelajaran yang menyenangkan dan demokratis yang ditujukan untuk proses membaca yang aktif. Meskipun demikian, penggunaan tes obyektif oleh guru pada teks sastra juga dirasa penting dilakukan dalam konteks kepraktisan.

Pembelajaran sastra yang demokratis di sini dimaksudkan bahwa dalam pembelajran sastra, terutama pembacaan produk sastra, siswa diberi kebebasan dalam memahami makna yang terkandung dalam sebuah produk sastra. Siswa hendaknya diarahkan untuk menemukan jati dirinya; baik kemampuan intelektual maupun bakat-bakat yang dimilikinya. Jadi mereka tidak sekedar menerima makna yang dianggap benar oleh gurunya. Setiap siswa harus mengetahui bahwa ia dihargai atas pemaknaan mereka, bukan karena menemukan sesuatu yang sama. Pemberian peluang pemaknaan lain yang siswa temukan disebabkan oleh perbedaan skemata, pengalaman hidup, usia, dan latar belakang sosial lainnya. Mereka juga diarahkan untuk bersikap aktif, memikirkan apa yang dipelajari, kritis, serta dewasa dalam menilai masalah yang dibahas dalam teks.

Terkait pembelajaran sastra yang demokratis, penulis merekomendasikan teori pembacaan sastra dari Rosenblatt (1978) yang dikenal sebagai Reader Response Theory. Teori tersebut berkisar tentang sikap kritis dalam membaca sastra dan bagaimana fungsinya dalam kaitannya dengan teori membaca efferent (to look for information) dan aesthetic (to live through). Menurutnya, proses membaca adalah sebuah peristiwa aktif dimana terjadi transaksi antara teks dengan pembacanya. Lebih jauh, dia memandang proses membaca sebagai transaksi antara pembaca dan teks di mana pembaca melibatkan pengalaman masa lalunya, keyakinan, harapan dan asumsi, berinteraksi dengan perspektif dalam teks. Hasilnya, makna ditentukan sebagai buah dari transaksi ini.

Pembebasan pemaknaan dalam transaksi membaca bukan tanpa batasan. Rosenblatt menegaskan bahwa seseorang dapat mengatakan apapun tentang teks namun harus disertai penjelasan / alasan yang dapat diterima. Sebagai contoh, kita mungkin pernah mendengar lagu “Andaikan Kau Datang Kembali” milik Koes Plus. Lagu tersebut bercerita tentang romantika sepasang kekasih yang berpisah. Namun, pemaknaan lain muncul dari lagu tersebut, diantaranya adalah bahwa lagu tersebut merupakan lagu religi yang bercerita mengenai kehidupan akhirat. Hal ini tentu saja memberikan kesimpulan bahwa sebuah lagu diciptakan oleh pendengarnya. Pendengar memiliki hak untuk memaknai lirik yang mereka dengar yang tentu saja beralasan dan dapat dijelaskan.

Selanjutnya, dia mencatat bahwa tidak ada pengalaman membaca yang murni estetis atau murni eferen, melainkan pembaca selalu membuat pilihan tentang pemikiran mereka. Terkait sikap kritis yang dimunculkan pada teori membaca ini, pembaca menggunakan pengetahuan latar belakang mereka (skemata) untuk memahami hubungan antara ide-ide mereka dan ide-ide yang disajikan oleh penulis teks. Dalam proses ini, pembaca tidak hanya berperan sebagai pemecah kode, pembuat makna, dan pengguna teks, tetapi juga peran kritikus teks.

Tentu saja, sikap kritis di sini pada praktiknya harus disesuaikan dengan kapasitas peserta didik dan jenjang pendidikan. Seperti diketahui bersama, bahwa berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan abad 21 yang menjadi amanah dalam pendidikan di Indonesia. Penerapan teori membaca sastra di sini dapat menjadi salah satu upaya dalam membantu siswa menguasai kemampuan berpikir kritis tersebut.

Sebagai penutup, membaca sastra merupakan kegiatan yang menyenangkan. Kita seringkali menjadikan sastra sebuah pelarian dari permasalahan hidup. Pembelajaran sastra seyogyanya berbeda dari pembelajaran teks faktual (non sastra). Maka, dari pelbagai teori yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sastra, penulis berharap tulisan ini dapat memberikan sebuah solusi alternatif pada pembelajaran sastra dengan keyakinan bahwa sastra dibuat untuk pembacanya dengan keunikan masing – masing pemaknaannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.