Panglima Macan Ali: Buktikan Kalau PRA Luqman Bukan Trah Sultan!

oleh -2.074 views
ANGKAT BICARA. Panglima Laskar Agung Macan Ali, Prabu Diaz angkat bicara soal prahara di Keraton Kasepuhan. FOTO: SUWANDI/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID  – Polemik antar bangsawan di tubuh Keraton Kasepuhan terus bergulir. Apalagi, setelah munculnya nama Raharjo Djali dan Wisnu Lesmana Nugraha yang mengklaim diri sebagai sultan yang layak bertahta. Sementara, sepeninggalnya Sultan Sepuh XIV, tahta keraton dipegang Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin.

Banyak yang menuding, PRA Luqman tak layak bertahta lantaran nasabnya bukan trah dari Sunan Gunung Jati. Merespons itu, Panglima Laskar Agung Macan Ali, Prabu Diaz angkat suara. Prabu Diaz menantang siapapun yang meragukan trah PRA Luqman memberi bukti valid.

“Sekarang orang pada ribut (Sultan) Kasepuhan bukan nasab-bukan nasab. Ada nggak yang bisa membuktikan,” ujar Prabu Diaz kepada Rakyat Cirebon.

Menurut Prabu Diaz, opini yang berkembang terkait trah PRA Luqman jangan sampai menjadi fitnah karena banyaknya tokoh yang bersuara. “Jadi kalau bilang Sultan Kasepuhan sampai ke XV ini bukan pancernya harus dibuktikan. Jangan katanya. Sebab jatuhnya fitnah. Fitnah dan membelokan nasabnya orang itu paling bahaya sekali,” tambah dia.

Merespons adanya pihak lain yang mengklaim layak bertahta sebagai orang nomor satu di Keraton Kasepuhan, Prabu Diaz tak ambil pusing. Baginya, setiap orang bebas bercita-cita jadi apa saja. Termasuk jadi sultan di Keraton Kasepuhan.

“Kalau saya berpendapat ya sah-sah saja siapa pun mau pengen jadi sultan, dilantik jadi sultan, jadi raja sah-sah saja. Petani aja ngaku sultan sah-sah saja nggak masalah. Itu hak seseorang. Tetapi kalau kita berbicara soal kesultanan, kerajaan terutama di Cirebon ya biasanya kalau pengen jadi sultan atau siapapun jadi sultan ya anaknya sultan. Gitu loh,” tambah Prabu Diaz.

Namun begitu, kata Prabu Diaz, menjadi sultan tak sekadar gagah-gagahan. Ada tanggung jawab besar yang diemban. Yakni sebagai figur pemimpin dan tokoh agama dalam waktu yang bersamaan. Baginya, sultan adalah sosok panutan.

“Kemudian sebagai sultan di Cirebon kesultanan itu ya umara ya ulama. Kenapa? Karena pendiri Kesultanan Cirebon, Sunan Gunung Jati itu syiar melalui budaya, adat, tradisi. Sultan itu ya harus melaksanakan adat tradisi di keraton, ada tata kramanya,” jelas dia.

Prabu Diaz menanggapi jumenengan dua tokoh lain sebagai sultan. Menurutnya, ada pakem yang dianut dalam penobatan seorang bangsawan menjadi sultan. Baik waktu, tempat dan orang yang memimpin jumenengan.

“Di mana-mana di Cirebon kayak di Kanoman pelantikan sultan itu di keraton utama. Misalnya di jinemlah. Di Kasepuhan ya sama di panembahan atau di ruang prabayaksa dilantik dijumenengi, yang melantiknya adalah paman dari satu garis,” kata dia.

Di samping, seorang sultan merupakan keturunan dari jalur laki-laki sultan sebelumnya. Kriteria itu, kata Prabu Diaz, melekat pada PRA Luqman Zulkaedin.

“Yang kedua ya namanya sultan itu ya punya istana, punya keraton. Kemudian leluhur-leluhurnya juga sultan, terus pancer. Itukan lurus dari jalur laki-laki,” ulasnya. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.