Loyalis Azis Jangan Provokatif

oleh -1 views
KEJAKSAN –  Pernyataan loyalis Walikota Drs Nasrudin Azis SH, Umar S Clau yang menuding PPP dan Partai Golkar menghambat proses pengisian wakil walikota (wawali) dianggap berlebihan.

ilustrasi pemilihan wawali cirebon
Ilustrasi kursi kosong Wawali Cirebon. Image by batamnews.com

Umar dikecam mantan kader Partai Golkar Didi Sunardi SE.

Menurutnya, tak sepatutnya Umar menilai bahwa PPP dan Golkar telah melakukan perbuatan makar.

“Sangat berlebihan. Karena pengertian makar ini identik dengan hal-hal yang negatif,” ungkap Didi.

Ditambahkan Didi, persoalan PPP dan Golkar yang tak menyetujui usulan Partai Demokrat, Dra Hj Eti Herawati menjadi calon wawali, tidak bisa disebut sebagai perbuatan makar.

Penolakan itu merupakan rangkaian panjang. Di mana, Demokrat dituding mengingkari kesepakatan partai pengusung.

“Hal ini jangan diasumsikan makar. Karena bagaimanapun, makar itu identik dengan provokasi kepada hal-hal yang akan merusak tatanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya kira, jangan provokasi lah,” katanya.

Menurutnya, yang seharusnya dilakukan semua pihak adalah membantu agar proses pengisian wawali segera rampung.

“Jangan kedepankan kepentingan partai pengusung atau golongan tertentu, melainkan kedepankan kepentingan masyarakat,” tandasnya.

Agar semua persoalan menyangkut wawali cepat terselesaikan, Didi mengajak semua pihak agar mengedepankan kepentingan masyarakat Kota Cirebon.

“Partai pengusung juga agar kembali bertemu dan mengambil kebaikan untuk kemaslahatan masyarakat Kota Cirebon,” tuturnya.

Ia menilai, keberadaan wawali sangat dibutuhkan.

Selain sebagai amanat konstitusi, wawali juga bisa menjadi penyeimbang bagi walikota dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Karena, kata dia, tanpa wawali, roda pemerintahan terlihat tak stabil.

“Kasihan Pak Walikota selama ini sudah berjuang maksimal dalam memimpin Kota Cirebon. Namun belum semua dapat terselesaikan. Karena beliaupun tentunya memerlukan pendamping dalam menjalankan roda pemerintahan,” katanya.

Sebelumnya, loyalis Azis, Umar S Clau angkat bicara soal wawali. Menurutnya, ketika ada pihak yang menudung Azis dengan sengaja membuat proses pengisian wawali selalu buntu, tuduhan itu sangat tidak mendasar.

“Kalau Pak Azis dituduh tidak ingin ada wakil, itu jelas tanpa dasar,” kata Umar. Menurut Umar, keberadaan wawali di roda pemerintahan adalah amanat konstitusi.

Sebagai warga negara yang taat konstitusi, kata Umar, Azis tentu akan menjalankan amanat yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan.

“Pak Azis taat konstitusi. Beliau sangat mengharapkan segera ada wakil,” katanya. (jri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.