Limbah Sampah Mencemari Lahan Pertanian, Petani Merugi Terus

oleh -10 views
TERDAMPAK. Air limbah dari tumpukan sampah yang menggunung di TPA Heuleut kabupaten Majalengka mencemari sawah. Akibatnya, para petani mengaku merugi saat panen padi. FOTO: HASANUDIN/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID – Petani di Blok Pangaritan, Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka mengeluhkan limbah sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di desa mereka, yang mengalir ke sawah dan berdampak pada penurunan produksi hingga 75 persen.

Para petani mendesak Pemerintah untuk mengatasi persoalan limbah sampah TPA tersebut agar panen mereka kembali normal. Alternatif lain, Pemerintah dapat membeli sawah yang terdampak limbah, agar petani tidak terus merugi.

Ketua Kelompok Tani Blok Pangaritan Usman mengungkapkan, penurunan produksi gabah terjadi sejak dua tahun terakhir. Itulah awal sampah dibuang di kawasan kebun yang semula diperuntukan kawasan hijau terbuka dan taman.

Air limbah dari tumpukan sampah yang menggunung di TPA Heuleut kemudian mengalir ke areal sawah milik para petani setempat.

Dampaknya tanaman tumbuh hijau, rumput juga tumbuh banyak, namun ketika berbunga, tangkai padi langsung patah leher. Kalaupun tumbuh ternyata bulir hampa dan berwarna hitam.

Anisah yang memiliki sawah di dua tempat di blok yang sama mengatakan, tahun-tahun sebelumnya dia biasa memperoleh 2,5 kuintal dari luas lahan 125 bata kini hanya memperoleh dua karung atau sebanyak 80 kilogram saja.

“Dari satu tempat lainnya biasa diperoleh 12 karung sekarang hanya 4 karung. Padi berwarna hitam, tidak bening, ketika di giling bubuk,” kata Anisah kepada Rakyat Cirebon, Kamis (15/4).

Hal yang sama disampaikan Kasdi (85). Areal sawahnya seluas 500 bata yang biasanya diperoleh kurang lebih 3,5 ton kini hanya 2 ton pun kurang.

Karena kondisi barang padi patah dan hampa, serta warga padi kehitaman, saat digiling biji banyak yang patah.

“Sekarang ini, sewa sawah mahal Rp7 juta hingga Rp9 juta per tahun, sedangkan pendapatan kurang dari 2 ton-an, sementara pupuk mahal Rp600 ribu, bibit juga mahal,” kata Kasdi.

Ketua Kelompok Tani, Usman mengungkapkan, penurunan produksi akibat limbah sampah tersebut hingga mencapai 75 persen.

Kondisi ini akibat banyaknya gabah yang hampa, kalaupun gabah berisi, bobotnya rendah. Jika biasanya satu karung gabah berisi 45-46 kg, kini kurang dari 42 kg bahkan hanya 40 kg.

Selain itu, warna padi kehitaman, ketika digiling beras pun kusam dan patah-patah lebih banyak menir dibanding beras.

“Jadi, tangkap padi itu langsung patah leher, tidak banyak berisi. Ketika berisi sebagian dan warnanya hitam, wajar ketika di giling justru yang banyak menir karena gabahnya patah serta hampa,” ungkap Usman.

Paling parah, menurutnya areal sawah yang jaraknya cukup dekat dengan TPA. Air limbah TPA langsung masuk ke sawah petani.

Di bagian hilir, air limbah TPA berupaya dialirkan ke saluran atau warga menyebut gigili, namun nampaknya limbah tetap terserap ke sawah.

Menurut Usman, tanaman yang berjarak hingga 20 meteran dari TPA kondisinya sama seperti tanaman yang terkena limbah langsung, kondisi bulirnya hampa dan hitam, padahal daun dan rumpun cukup subur.

“Abah Uhit dan Pak haji Alek yang nyawahnya masing-masing satu bau (500 bata, red) mereka hanya dapat 2 ton, harusnya kan minimal 3,5 ton bisa dapat. Sekarang semua rugi,” tandasnya.

Pihaknya bersama anggota kelompok tani pernah menyampaikan keluhan tersebut kepada pemerintah Desa, Penyuluh Pertanian dan Pengelola Sampah. Pihak Penyuluh Pertanian telah mengambil sampel gabah dan tanah, namun petani belum memperoleh hasil penelitiannya.

“Penyuluh sudah datang mengambil sejumlah sampel, gabah dan tanah untuk diuji, tapi kami belum mengetahui apa hasil yang didapat dari pengujian tersebut,” kata Usman.

Para petani menyebutkan, beberapa tahun lalu para petani mengijinkan perkebunan dekat TPA dibeli oleh pemerintah karena alasannya untuk kawasan hijau terbuka bukan untuk pembuangan sampah akhir. Karena pembuangan sampah akan ditumpahkan kontainer ke sebelah timur yang arealnya dianggap masih cukup luas.

Namun nyatanya, pembuangan sampah justru dilakukan di luar benteng TPA. Akibatnya, limbah cair dari tumpukan sampah mengalir ke areal sawah petani.

Oman, Usman, Asih dan Anisah mempertanyakan janji pemerintah yang menyebutkan kebun di luar kawasan benteng TPA untuk kawasan hijau yang akan ditanami pepohonan dan taman. Namun, kini kawasan tersebut justru menjadi tempat menumpahkan sampah.(hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *