Kisah Carlan, Tunanetra Calon Doktor Pertama IAIN Cirebon

oleh -217 views
SIDANG. Carlan, tunanetra calon doktor pertama Pascasarjana IAIN Cirebon menjalani sidang disertasi tertutup dihadapan 5 penguji, Senin (25/1).

Belajar Pakai Audio, Garap Disertasi Sejak Semester Satu

MATA Carlan tak bisa melihat sejak lahir. Namun semangatnya mampu menghantarkannya jadi ASN terbaik se Jawa Barat pada 2019. Kini, selangkah lagi dia bakal menjadi doktor pertama Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Mengenakan jas hitam match dengan celana dan sepatu pantopel hitam, Senin (25/1) siang, Carlan tampak begitu siap menghadapi ceceran 5 guru besar yang akan menguji disertasinya di ruang sidang. Momen seperti ini biasanya membuat peserta sidang gemetaran. Tapi tidak bagi Carlan.

Dia tampak santai. Sesekali melempar senyum kepada wartawan yang mewawancarainya sebelum sidang disertasi dimulai. “Lagi pula apa yang saya takuti. Sayapun nggak bisa melihat orang yang menguji disertasi saya,” ungkapnya kepada Rakyat Cirebon.

Ya, Carlan seorang tunanetra. Meski tak bisa melihat, semangatnya lah yang menuntunnya sampai ke ruang sidang sebagai calon doktor pertama di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Tepat dua tahun kuliah, dia mampu merampungkan naskah disertasinya. Bahkan lebih cepat dibanding mahasiswa program doktoral lainnya.

Saat menggarap disertasi, Carlan dibimbing oleh Prof Dr H Cecep Sumarna MAg sebagai Pembimbing Utama, Prof Dr H Dedi Djubaedi MAg sebagai Pembimbing 1 dan Dr Siti Fatimah MHum sebagai Pembimbing 2. Dia memulai bimbingan sejak semester 1 secara informal. Hasil bimbingan itu dia rekam dalam memori kemudian ditulis ulang oleh orang dekatnya.

Carlan mempresentasikan disertasinya di hadapan Prof Dr H Abdurrahman Mas’ud MA selaku Penguji Eksternal melalui zoom serta Prof Dr H Adang Djumhur MAg dan Prof Dr H Jamali selaku Penguji Internal langsung di ruang sidang. Disaksikan Ketua Sidang, Prof Dr H Dedi Djubaedi MAg dan Sekretaris Sidang, H Didin Nurul Rosidin MA PhD.

Disertasi Carlan mengangkat tema keberagaman. Dengan judul Implementasi Model Pendidikan Nilai Multikultural dalam Membentuk Sikap Keberagaman Masyarakat (Studi Kasus di Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Tebalnya 289 halaman.

Carlan mengaku, tema keberagaman dia pilih lantaran prihatin dengan perilaku kekerasan atas nama agama dan tindak intoleransi yang masih terjadi. Cigugur, Kuningan menurutnya bisa jadi contoh praktik hidup yang mencerminkan harmoni dalam keberagaman.

“Kita sedang dihadapkan pada kekerasan atas nama agama. Intoleransi atas nama agama. Ternyata saya menemuka fakta lain di Cigugur, keragaman agama itu tidak nampak adanya kekerasan, intoleransi. Inilah yang ingin saya pesankan secara moral kepada Indonesia,” ujar dia.

Menurutnya, Cigugur merupakan aset  bernilai Kabupaten Kuningan.  Lantaran terdapat berbagai kekayaan agama dan budaya Sunda yang masih lestari sampai kini. Sikap toleransi masyarakat Cigugur juga tercermin dalam perilaku keseharian. Penghormatan terhadap leluhur dan orang lain yang beda keyakinan terawat dengan baik.

“Bahwa sebetulnya kalau dibangun kesadaran bergama lakum dinukum walyadiin, kan gitu. Ternyata di Cigugur bisa. Negara kita juga Bhineka Tunggal Ika,” kata Carlan yang pada saat sidang mengenakan kacamata hitam.

Sidang disertasi Carlan merupakan tahap awal yang digelar secara tertutup. Di sidang ini, Carlan diberi kritik dan penguatan untuk mendukung argumentasi dan data lapangan dalam disertasinya. Dia sudah merekam apa saja masukan para penguji untuk perbaikan disertasinya.

“Terkait dengan landasan, metodologi sampai ke persoalan akhir. Beberapa catatan yang saya dapatkan adalah lebih ke saran dan penajaman soal model yang ditemukan dalam kehidupan keberagaman di masyarakat Cigugur,” ujar dia.

Selanjutnya, disertasi akan diperbaiki. Dan kembali disidangkan secara terbuka pada 12 Maret 2021 mendatang. Jika tak ada revisi lagi, Carlan berhak mendapatkan promosi doktor. Kemudian dia ditetapkan resmi menyandang gelar doktor dari Pascasarjana IAIN Cirebon.

Tak mau hanya sebagai laporan akademik, Carlan berniat melanjutkan disertasinya menjadi buku untuk kepentingan pengambilan kebijakan terkait keberagaman di Kabupaten Kuningan. “Untuk pendidikan sosial masyarakat itu sendiri,” tambahnya.

Tak hanya berhasil sebagai calon doktor pertama, prestasi Carlan lainnya ialah menjadi ASN terbaik se Jawa Barat  pada 2019. Carlan yang kini menjabat sebagai  Kepala Bidang PAUD dan Dikmas di Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan itu bahkan mengalahkan ASN lain dari 26 kabupaten/kota yang bukan penyandang diffable.

“Lomba ASN berprestasi tingkat provinsi dan saya dinyatakan ASN terbaik eselon 3 tingkat Provinsi Jawa Barat. Dan oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan saya diberi kepercayaan untuk melanjutkan tugas belajar untuk program doktoral,” tambah dia.

Dari penuturannya, Carlan lahir pada 1972. Menempuh pendidikan SD di Desa Karanganyar, Luragung. Lanjut ke SLB Perwari Kuningan untuk setara SMP. Dan masuk SMA Pertiwi Cilimus sampai lulus. Pendidikan tinggi pertanya di Universitas Kuningan untuk strata 1.  Pendidikan strata 2 Carlan ditempat di Sekolah Tinggi Manajemen, Jakarta.

Dia punya seorang anak yang tengah tengah menempuh pendidikan tinggi di UPI dari seorang istri yang juga diffable. Istri Carlan kini menjadi kepala salah satu SLB di Kuningan.

Direktur Pascasarjana IAIN Cirebon sekaligus Pembimbing 1 disertasi Carlan, Prof Dr H Dedi Djubaedi MAg mengatakan, selama membimbing Carlan, Dedi tak temukan kendala. Menurutnya, Carlan punya kemampuan bernalar dan mengingat lebih baik. Sehingga meski menyampaikan materi dan bimbingan melalui audio mudah dipahami oleh Carlan.

“Karena tidak bisa melihat maka pelayanan kita menggunakan audio. Kelebihannya pada daya nalar dan daya ingat yang kuat. Dan disampaikan oleh para guru besar ini. Menilai punya kapasitas dan kapabilitas luar biasa, selayaknya orang yang tidak memiliki kekurangan,” ujar Dedi.

Dedi mengatakan, Carlan menjadi bukti, diffable bisa beprestasi. “Saya kira mindset nya harus dirubah. Tidak berarti orang yang sempurna secara jasadiyah itu juga paripurna di dalam hal lain. Sebaliknya ada juga diffable tapi memiliki kelebihan dari orang sempurna,” tukas Dedi. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.