Kelola Lahan Tebu Bersama Petani, BUMDes Sebut Keuntungan Menjanjikan

oleh -7 views
UNTUNG. Petani tebu di Desa Kerticala, Kecamatan Tukdana melakukan perawatan saluran air untuk mengurangi potensi dampak berkurangnya hasil produksi.

RAKYATCIREBON.ID – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bintang Kerti di Desa Kerticala, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu memiliki salah satu sektor usaha yang menjanjikan keuntungan. Bahkan, usaha yang dijalani sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu dan beranggotakan ratusan petani.

Disampaikan Ketua BUMDes Bintang Kerti, Fityanul Hakim, pada awal kepemimpinannya di tahun 2018-2019 lalu ada ketertarikan dengan program kemitraan PG Rajawali Jatitujuh untuk menggarap lahan tebu.

“Awalnya sama sekali tidak tertarik, tapi berusaha mencari tahu apalagi di sini banyak eks pegawai PG. Lalu saya ajak petani dan sosialsiasi,” jelasnya, Rabu (24/11) saat ditemui di perkebunan tebu di wilayah Kecamatan Tukdana.

Sampai saat ini, dari program kemitraan yang sudah dijalani sedikitnya ada 300 hektar lahan tebu di Desa Kerticala dikelola oleh BUMDes Bintang Kerti. Petani yang bergabung tercatat sebanyak 150 orang.

“Di awal memang tidak banyak yang ikut, tapi setelah tahu ada hasil banyak petani yang tertarik. Jadi awalnya penasaran dan belajar, sekarang bisa menanam tebu,” ungkapnya.

Bahkan, sejak awal menjalin kemitraan hingga sekarang, petani yang bergabung mendapat bimbingan dan diajari proses tanam maupun perlakuan terhadap tanaman tebu. Pembimbingnya disebut Sinder Kebun Wilayah (SKW) yang merupakan karyawan PG Rajawali Jatitujuh.

Terkait ketertarikannya, ia tidak menampik ada banyak keuntungan yang didapatnya. Jika dalam pemeliharaannya dilakukan dengan baik dan benar, maka hasil produksinya bisa menghasilkan Rp20 juta hingga Rp30 juta tiap kali panen per hektar. Adapun waktu produksinya antara 10 sampai 12 bulan, tergantung varietas bibit tebunya.

“Itu keuntungan bersih, tapi rata-rata 15 juta sampai 20 juta. Beda dengan wilayah Majalengka yang petaninya sudah dari dulu menanam tebu. Seperti di Desa Sumber dan Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, itu dari sebelum ada program kemitraan petaninya sudah kerja di perkebunan tebu. Kalu kita itu baru belajar, tapi ternyata pemeliharaan dalam produksinya sangat mudah,” terangya.

Disinggung biaya operasional, Hakim menyebutkan pada tanam awal ada biaya bajak, pembelian bibit, pupuk, dan herbisida. Namun setelah panen tanam awal, produksi masih bisa dilakukan dengan tanpa mengeluarkan biaya bajak dan bibit.

Rincian biaya operasional tanam awal per hektar lahan, kebutuhan bibit sebanyak 7 ton seharga Rp6,3 juta, biaya bajak sekitar Rp2,1 juta, pupuk Rp2 jutaan, dan herbisida sekitar 10 liter seharga Rp500 ribu. Jika dikalkulasikan, biaya operasional tanam awal bisa mencapai Rp25 jutaan.

“Di tahun kedua tidak ada biaya bajak dan bibit. Untuk produksi setelah panen dengan memanfaatkan tunas-tunas yang tumbuh dari bibit tanam awal, kita lakukan pemeliharaan. Kalau produksinya masih bagus tidak usah bajak dan tanam bibit, maka kuncinya ditanam awal harus bagus,” papar dia.

Lebih menguntungkan lagi, lanjutnya, yaitu ketika petani tidak menggunakan tenaga orang lain dalam pemeliharaan. “Tetap harus dipelihara, tanaman juga butuh makan dan nutrisi. Memang ditanam biasa tanpa dipelihara tebu itu bisa tumbuh, tapi kan tidak maksimal,” kata dia.

Saat diminta membandingkan keuntungan menanam tebu dibandingkan menanam padi, Hakim mengaku tidak ada sinkronisasi. Namun dari proses yang dijalaninya menilai lebih menguntungkan menanam tebu.

“Sebenarnya membandingkan padi dan tebu itu tidak evel to evel, artinya tidak bisa dibandingkan. Tapi kalau menurut saya pribadi lebih menguntungkan tebu,” ucapnya.

Sementara dari sudut pandangnya, jika semua lahan tebu ditanami padi, produksi pasti sangat melimpah dengan luasan lahan yang tersedia. Hanya saja, pada saat panen pasti akan dihadapkan dengan harga padi yang anjlok.

“Petani tebu memang makan nasi, tapi apakah disetiap makanan tidak butuh gula? Kita juga dukung program pemerintah, swasembada gula. Bisa by data, untuk kebutuhan gula di Kabupaten Indramayu saja apakah sudah terpenuhi? kan belum. Di Indonesia itu menanam apa saja bisa tumbuh, tapi kalau gula masih impor kan lucu. Akhirnya hanya wacana dan wacana. Kita ga ngerti aturan tapi kita juga butuh makan,” paparnya.

Disebutkan Hakim, fasilitas program kemitraan yang disediakan oleh PG Rajawali Jatitujuh diantaranya pinjaman modal tanpa agunan. Kemudian tersedianya traktor, serta stok pupuk, bibit, dan herbisida. Sedangkan alat angkut hasil panen dari lahan ke pabrik sudah ada kendaraan operasional.

Hasil produksinya langsung dibeli oleh PG Rajawali dengan harga pembelian terendah dengan rendemen 6,6 seharga Rp51 ribu per kuintal. Untuk masa panen antara Juni-Oktober dengan masa panen selama 4 bulan dikarenakan lahan yang sangat luas. “Kendalanya hama tikus, sulit dikendalikan. Kalau ada yang rusak kita sulam dengan bibit baru. Dan kalau curah hujan tinggi harus sering perbaiki saluran air,” pungkasnya. (tar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.