Kecam Tindakan Premanisme terhadap Petani

oleh -2 views
KONFLIK. Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi mengunjungi lahan tebu HGU PG Jatitujuh yang terus menimbulkan konflik antar petani Indramayu dan Majalengka. FOTO: HASANUDIN/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID – Kasus penganiayaan yang menewaskan dua petani tebu di kawasan HGU PG Rajawali II Jatitujuh, mendapat perhatian Direktur PT PG Rajawali II, Ardian Wijanarko. Dia menyampaikan duka cita mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Tentu kami sangat menyayangkan terjadinya penyerangan terhadap mitra petani tebu di wilayah HGU Jatitujuh,” tutur Ardian Kamis (7/10).

Ardian berharap tidak terulang lagi kejadian yang sama. Dia mengecam keras adanya konflik berdarah yang sampai menewaskan petani. “Kami menyerahkan  kepada penegak hukum untuk proses selanjutnya,” ujarnya.

Menurut dia, petani tebu merupakan salah satu mitra strategis yang berpengaruh terhadap kelangsungan produksi pabrik gula. Ia berharap peristiwa tersebut tidak mengganggu jalannya pola dan hubungan kemitraan yang telah dijalin dengan masyarakat sekitar, dalam beberapa tahun terakhir.

“Ke depan, semoga peristiwa ini tidak terulang kembali. Mengingat para petani tebu rakyat di wilayah tersebut merupakan binaan dari PG Jatitujuh. Mereka telah banyak berkontribusi memasok bahan baku tebu untuk menjaga keberlangsungan produksi gula,” ujarnya.

Sebelumnya, Kapolres Indramayu AKBP M Lukman Syarief mengatakan, terdapat dua korban tewas yaitu Suhenda dan Dede Sutaryan. Keduanya merupakan warga Kecamatan Jatitujuh, Majalengka. “Sebanyak 26 orang dimintai keterangan dan menjadi saksi dalam kasus ini,” kata Lukman Syarief.

Polisi pun menetapkan tujuh orang tersangka dalam kasus berdarah ini. Lima orang telah berhasil diamankan di Polres Indramayu. Sedangkan dua orang lainnya masih dalam pengejaran kepolisian.

Kapolres menambahkan, polisi juga menangkap Ketua F-Kamis, yang diduga berperan sebagai penggerak di kasus tersebut. “Peran ketua F-Kamis diduga yang menggerakkan, yang menghasut untuk melakukan perlawanan baik kepada petani masyarakat yang bermitra dengan PG Rajawali dan juga melawan aparat,” ujarnya.

Saat ini aparat juga mengatasi konflik yang berkepanjangan ini supaya segera diakhiri. “Saya sepakat dengan pak Dandim untuk segera mengakhiri konflik ini. Kita laksanakan tindakan tegas, tidak ada lagi aksi premanisme. Tidak ada lagi intimidasi, dan tidak ada lagi pemerasan terhadap masyarakat kecil,” ucapnya.

Karena selama ini masyarakat dan petani yang ingin bermitra dengan PG Rajawali selalu diintimidasi dan diperas oleh anggota F-Kamis. (hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.