Kampung Mati di Majalengka Ditinggalkan Penduduknya Sejak 2009

oleh -77 views
TERBENGKALAI. Sebuah musala dalam kondisi rusak, terbengkalai di Dusun Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka

RAKYATCIREBON.ID – Kampung tidak berpenghuni di Dusun Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, mendadak viral usai diunggah oleh channel YouTube Bucin Tv.

Dalam unggahannya, video itu menunjukan kondisi rumah-rumah warga yang terbengkalai akibat bencana alam pergeseran tanah.

Diketahui, ‘kampung mati’ tersebut sudah ditinggalkan oleh para penduduknya sejak tahun 2009 lalu.

Selain di Desa Sidamukti ternyata masih ada lagi dusun yang tidak berpenghuni di Kabupaten Majalengka, yakni di Dusun (atau kampung) Cigintung, Desa Cimuncang, Kecamatan Malausma.

Sama dengan Dusun Tarikolot Desa Sidamukti, Dusun cigintung Desa Cimuncang juga ditinggalkan oleh penduduknya akibat bencana alam pergerakan tanah pada tahun 2013 lalu.

Pantauan di lapangan, kondisi Dusun Cigintung setelah ditinggalkan oleh para penduduknya lokasi tersebut hanya menyisakan bangunan-bangunan rumah yang rusak terbengkalai dan tertimbun akibat bencana alam tersebut.

Selain rumah ada juga sejumlah bangunan fasilitas umum seperti masjid, sekolahan, dan balai dusun yang terbengkalai di lokasi tersebut.

Melalui informasi Kepala Dusun setempat, Eding Supardi mengatakan usai peristiwa tersebut warga dusun mengungsi sementara di rumah keluarganya.

“Pasca kejadian juga kami difasilitasi untuk mengungsi oleh tim Tagana, tapi warga lebih memilih mengungsi di rumah saudaranya yang masih tinggal satu desa,” ujar Ending saat diminta informasi oleh wartawan, Kamis (4/2).

Dikatakan Ending, Inisiatif Bupati pada saat itu, warga sempat akan dipindahkan ke Desa Cipicung berikut dengan difasilitasi rumah tipe sederhana.

“Perjanjian beliau (Bupati Sebelumnya) itu kami akan difasilitasi rumah langsung terima kunci, tapi warga meminta untuk ditempatkan disini, alasannya karena akses dan budayanya jauh dengan warga sini,” tutur Ending.

Kata Ending, negosiasi antara warga dengan pemerintah daerah berujung buntu dikarenakan Pemkab Majalengka terkendala masalah anggaran pada saat itu.

Sampai pada akhirnya, tahun 2014 pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelontorkan dana bantuan sebesar Rp9 Miliar  untuk 600 Kepala Keluarga (KK).

“Dana Rp9 Miliar itu dikelola sama Pokmas dan dibagi Rp15 juta per KK. Sebenarnya yang kami ajukan itu sebanyak 672 KK tapi yang terealisasi hanya 600 KK,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ending menjelaskan Rp15 juta per KK itu berbentuk material bangunan dan berupa uang tunai.

“Uang Rp15 juta itu dibagi, berbentuk material yang jika dirupiahkan sebesar Rp13 juta setengah dan Rp1 juta setengah berupa uang tunai,” jelas Ending.

Dijelaskan Ending, dari bantuan itu mayoritas warga terdampak membeli lahan pribadi di Dusun Jontang untuk dijadikan rumah.

Tanah yang awalnya hutan pohon pinus itu dibeli oleh warga seharga Rp500 ribu perbata (14 Meter) pada saat itu.

Sayangnya kata Ending, masih ada sekitar 80 KK yang lebih memilih merenovasi rumah lamanya, dikarenakan mereka kekurangan biaya untuk membangun rumah baru.

“Mereka tidak ada uang untuk membuat rumah baru katanya, tapi 80 KK itu berada di zona relatif aman, walaupun rasa was-was mah ada mereka juga,” katanya.

Menurut Ending, lokasi tersebut saat ini sudah mulai ada aktivitas kehidupan kembali.

“Akses jalan penghubung Majalengka Ciamis juga sudah diperbaiki pada bulan September 2020 lalu, selain itu di sana juga baru dibangun mushola untuk pengguna jalan yang sedang melintas,” jelas Ending.(hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *