Kain Gadod asal Maja Terancam Punah

oleh -2 views
HAMPIR PUNAH. Perajin tenun di Kabupaten Majalengk. Kain tenun bernama Gadod tersebut berasal dari Desa Nunuk Baru, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka.

RAKYATCIREBON.ID – Keberadaan perajin tenun di Kabupaten Majalengka terancam punah.  Kain tenun bernama gadod tersebut berasal dari Desa Nunuk Baru, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka.

Dalam peringatan Hari Jadi ke-550 di acara sakral Nyiramkeun Pusaka Karuhun Nunuk, perajin tenun gadod dihadirkan di depan Balai Desa setempat.

Ialah Emak Maya (80), perajin satu-satunya kain gadod yang masih tersisa. Siti Khodijah (21) keponakan dari Emak Maya mengatakan, Tenun Gadod sendiri merupakan kain yang dibuat dari bahan kapas.

“Tenun Gadod ini sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang dan sempat mengalami masa keemasannya,” ujar Siti saat ditemui di lokasi, Kamis (23/9).

Meski belum ada bukti tertulis mengenai sejarah dari Tenun Gadod ini, ia mengaku cerita tentang kerajinan Tenun Gadod sudah turun temurun.

“Memang sebenarnya tidak ada bukti tertulis cuma cerita turun temurun aja. Tapi tenun ini sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang,” ucapnya.

Awalnya Tenun Gadod yang berarti kuat dan tebal ini dibuat dengan menggunakan kapas alit alias kapas Jepang.

Namun, karena kapas tersebut sudah tidak lagi ditemukan di Desa Nunuk, perajin kemudian menggunakan kapas honje untuk membuat Tenun Gadod.

Siti menjelaskan proses pembuatan satu buah kain Tenun Gadod dibutuhkan waktu sekitar 7-10 hari. Pembuatan Tenun Gadod dimulai dari tahap pembuatan benang, pewarnaan hingga menghitung kebutuhan untuk satu kain masih dilakukan secara tradisional.

Cara-cara tradisional itulah yang kemudian menjadi ciri khas Tenun Gadod dan membedakannya dengan tenun-tenun lainnya yang ada.

Termasuk menanam sendiri kapas honje sebagai bahan baku Tenun Gadod. “Seluruh proses pembuatan tenun dilakukan tradisional,” jelas dia.

Minimnya minat generasi penerus menjadi alasan kuat kerajinan tenun gadod terancam punah.

Hanya Emak Maya, Siti Khodijah dan satu orang lain yang masih bertahan eksis membuat tenun gadod.

“Tadinya ada dua, Mak Maya sama Mak Kasti. Tapi Mak Kasti sudah almarhumah, sekarang regenerasi Tenun Gadod ini baru dua orang, saya sama teman saya,” katanya.

Siti pun berharap Tenun Gadod ini masih bisa terus eksis dan kembali ke masa keemasannya seperti dulu.(hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.