Jemaah Sabar Menunggu, Juknis Perjalanan Umrah Belum Jelas

oleh -1 views
SEMPROT. Petugas menyemprotkan cairan desinfekan di bandara internasional Jawa Barat di Kertajari Kabupaten Majalengka. Hingga kini belum ada kejelasan juknis umrah di masa pandemi. FOTO: HASANUDIN/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID – Perjalanan umrah yang kembali dibuka oleh pemerintah Arab Saudi disambut baik sejumlah biro perjalanan umrah dan haji di Kabupaten Majalengka yang sudah menunda keberangkatan sejak akhir tahun 2019 lalu.

Mereka kini sedang menunggu pengumuman teknis penyelenggaraan dari Pemerintah Indonesia, karena petunjuk teknis (juknis) belum ada penjelasan.

Menurut H Ahmad Kamaludin salah satu biro penyelenggara perjalanan haji dan umrah “Fatra” di Kabupaten Majalengka, mengatakan, pihaknya hingga kini masih menunggu kabar resmi kapan dimulai, dan bagaimana teknisnya.

“Apakah harus menjalani karantina baik saat keberangkatan maupun kepulangan, dimana karantina dilakukan dan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk tambahan tersebut,” kata Ahmad Kamaludin kepada Rakyat Cirebon, Selasa (12/10).

Demikian pula saat berada di Makkah dan di Madinah, apakah semua tempat bisa dikunjungi termasuk tempat wisata seperti halnya sebelum pandemi atau terbatas hanya di masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya.

Petunjuk teknis ditunggu menurut H Ahmad karena berkaitan juga dengan biaya yang harus dibebankan kepada para peserta jamaah umrah. Sebab awalnya biaya yang sebesar Rp 27.500.000 per orang.

Itu tidak termasuk biaya karantina manakala pemerintah Arab dan Indonesia mewajibkan karantina bagi peserta umrah sama halnya dengan orang yang baru bepergian dari Luar Negeri.

Selain itu menyangkut pembatasan usia, apakah semua usia diperbolehkan untuk berangkat atau tidak. Karena saat ini di biro perjalanannya ada beberapa yang sudah mendaftar usianya sudah mencapai 70 tahunan.

Kalau ditunda kembali maka usia akan semakin bertambah terhadap kesehatan pun akan sangat berpengaruh.

“Secara umum lega ada peluang lagi untuk kembali memfasilitasi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan ke tanah suci. Karena ada banyak pendaftar sudah dua tahun menunda keberangkatan. Dua tahun tidak bisa beraktifitas,” ujarnya.

“Sekarang baru pengumuman, nanti mungkin dilanjutkan secara teknis bagaimana pelaksanaanya,” ungkap Ahmad.

Menurutnya, di tahun 2019 akhir sudah ada 30 orang yang mendaftar. Namun urung berangkat karena pandemi langsung melanda semua negara termasuk Indonesia dan Arab Saudi.

Dia pun sempat mengumumkan kepada calon peserta umrah menyangkut biaya yang sudah disetor ke perusahaannya, apakah akan diambil atau tidak. Namun semua peserta mengatakan untuk menunggu keberangkatan.

“Sejak Tahun 2020 lebih sering menunggu, sekarang menunggu pengumuman resmi bagaimana teknis yang sesungguhnya,” ungkap H Ahmad yang berharap pelaksanaan karantina tidak terlalu lama dan biaya tidak terlalu mahal karena itu akan berdampak pada kos yang harus dikeluarkan oleh jemaah.

Hal senada disampaikan biro perjalanan haji dan umrah lainnya Nunung Nurlaela yang terakhir berangkat pada akhir Maret 2020. Sejak itu dia tidak membuka pendaftaran karena khawatir menjadi beban serta karena ketatnya sejumlah persyaratan.

Ketatnya persyaratan ini diantaranya ada sejumlah tempat di tanah suci yang tidak bisa dikunjungi jemaah, seperti halnya tempat bersejarah Hijir Ismail, Ka’bah juga tidak bisa disentuh karena thawaf harus jauh dari ka’bah serta Ar Raudlah juga tidak bisa dikunjungi.

Padahal tempat-tempat tersebut menjadi tempat yang paling dituju para jamaah. “Ketatnya persyaratan itu menjadi beban, padahal tempat-tempat tersebut paling banyak dituju,” ungkapnya.(hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.