Indeks Risiko Bencana Kota Cirebon Peringkat Ketujuh Se-Jabar

oleh -1 views
RAKOR. BPBD mulai masif melakukan upaya kesiapsiagaan bencana. Dimulai dengan Rakor bersama semua stakeholder. FOTO: ASEP SAEPUL MIELAH/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID – Memasifkan gerakan pencegahan potensi bencana banjir dan tanah longsor di musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon menyatukan persepsi dengan semua stakeholder untuk melakukan gerakan bersama. Diawali dengan rapat koordinasi kesiapsiagaan bencana, Selasa (12/10).

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Khaerul Bahtiar mengungkapkan, melalui surat keputusan yang sudah diterbitkan Walikota dengan nomor 360.05/Kep. 156-KPBD/ 2021, di Kota Cirebon dibentuk satuan tugas (Satgas) tim reaksi cepat penanggulangan bencana. Satgas ini akan mengakomodir semua upaya pencegahan bencana, sampai kesiapsiagaan saat bencana terjadi dengan melibatkan semua pihak.

“Satgas kebencanaan dikomandoi BPBD, Kalak sebagai ketua Satgas. Tujuannya untuk mengurangi risiko banjir di Kota Cirebon,” ungkap Khaerul.

Sebagai langkah awal, lanjut Khaerul, Satgas kesiapsiagaan bencana beberapa waktu lalu sudah melakukan pemetaan dengan susur sungai dan susur drainase.

Dari hasil penyusuran yang dilakukan, diperoleh data pasti di lapangan tentang pemetaan titik rawan banjir dan genangan. Dari situ, Satgas akan menindaklanjuti dengan penanganan khusus.

“Tanggal 6 Oktober kita susur sungai dan susur drainase untuk pemetaan. Lalu kita akan lakukan kerja bakti masal dengan melibatkan instansi dan perangkat daerah, masyarakat di sekitar,” lanjut Khaerul.

Selain itu, dijelaskan Khaerul, pembagian tugas juga dilakukan. Seperti untuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung, dengan alat-alat besar yang dimilikinya akan bertugas melakukan normalisasi di bagian muara sungai.

Titik-titik rawan hasil pemetaan dengan susur sungai dan susur drainase, ditemukan beberapa titik rawan. Di antaranya titik genangan di Jalan Cipto MK, di wilayah Sukapura, sampai di Kalijaga di bagian anak sungainya. Karena di sana terlihat badan sungai dijadikan lahan pertanian oleh masyarakat.

“Itu bertahap. BBWS akan bertugas di muara-muara sungai saja. Karena alat besarnya tidak bisa masuk ke sungai kecil, di tengah dikerjakan secara manual. Jadi kita lebih ke upaya pencegahan,” jelas Khaerul.

Saat ini, ditambahkan Khaerul, Kota Cirebon menempati peringkat ketujuh menurut indeks risiko bencana Indonesia (IRBI), dari 27 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Barat di Tahun 2020 lalu. Sehingga itu menjadi tanggung jawab bersama mengurangi potensi bencana di Kota Wali.

“Curah hujan Kota Cirebon masuk kategori tinggi untuk tahun ini. Puncaknya itu di Desember sampai Februari. Jadi sebisa mungkin kita antisipasi sejak dini. Kita di peringkat ketujuh daerah paling berisiko bencana di Jabar,” imbuh Khaerul. (sep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.