Hasil Panen Petani Tak Bisa Dikirim Keluar Kota

oleh -10 views
IKUT TERDAMPAK. Petani timun suri mengeluh hasil panennya tidak bisa dijual ke luar kota karena pandemi.
IKUT TERDAMPAK. Petani timun suri mengeluh hasil panennya tidak bisa dijual ke luar kota karena pandemi.

RAKYATCIREBON.ID – Biasanya, Petani timun suri, meraup keuntungan saat ramadhan. Tapi, tahun ini tidak karena ikut terdampak akibat pandemi Covid-19 belum tuntas.

Hal itu, diakui Petani Timun Suri Cirebon, Maenah. Ia mengaku tidak seberuntung sebelum adanya pandemi Covid-19.

Pasalnya, proses pemasaran hasil panennya, terkendala. Tidak bisa dikirim ke luar kota.  

Otomatis, harga jualnya ambruk. Pengepul hanya berani membelinya Rp2500 sampai Rp3500 saja per kilogramnya. Itupun tergantung kondisi pasar dilapangan, serta kondisi buah yang 80 persen matang saja. 

Padahal biasanya permintaan bandar, buah yang masih dalam kondisi 60 hingga 70 persen juga bisa ikut dipanen untuk dikirim keluar kota, dengan harga diatas Rp3500. “Kalau tidak musim corona, ini laris. Karena orang kirim keluar kota, ke Bandung, ke Jakarta kan dilarang. Jadi dapat jualnya hanya disini saja, di pelosok-pelosok kampung,” ungkap Maenah, Selasa (27/4).

Adapun hasil panennya, per setengah hektare lahan biasanya menghasilkan sebanyak 2 ton buah. Namun, untuk saat ini hanya mendapat 500 kilogram atau setengah kwintal buah.

“Panen kalau nanam setengah hektare itu dapat 2 ton. Baru dua kali panen, nanamnya baru dua bulan lebih. Panen pertama dapat 5 kuintal, jualnya di bandar aja. Harganya diterima di bandar Rp 3500,”ungkapnya.

Ia mengaku telah menggeluti profesi tersebut sudah puluhan tahun lamanya. Seperti biasa, setiap tahunnya dia bersama petani-petani timun suri lainnya ketika menjelang bulan ramadhan mulai melakukan penanaman.

“Saya puluhan tahun biasa nanam timun suri, jadi sasarannya setiap menjelang bulan puasa kita nanam. Jadi ketika bulan puasa bisa di panen,” katanya.

Kendala bertani timun suri, adalah musibah banjir atau hujan yang terus menerus hingga merendam lahan. Bisa menyebabkan buah menjadi busuk. Beruntung, tahun ini, kondisinya lebih stabil.

“Pernah sampai gagal panen. Jadi buah itu pada busuk kalau kena banjir, pada retak buahnya.  Jadi diinjak-injak aja, terus di buang karena sudah tidak bisa di jual. Kalau tahun ini tidak gagal,” pungkasnya. (zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *