Garam Lokal Selalu Terjun Bebas

oleh -11 views
TIDAK TERBENDUNG. Harga garam lokal selalu anjlok yang diduga karena banyaknya impor yang masuk.
TIDAK TERBENDUNG. Harga garam lokal selalu anjlok yang diduga karena banyaknya impor yang masuk.

RAKYATCIREBON.ID – Harga garam lokal anjlok. Per kilogramnya diangka Rp400. Padahal, tahun ini, belum memasuki musim panen. Diduga, hal itu terjadi lantaran adanya hantaman garam impor, Maret lalu.

“Harga garam kita anjlok. Rp400 per kg. Kasian para petani garam kita. Padahal, impor garam kan sudah lama. Tapi efeknya masih aja,” kata Kabid Pemberdayaan Dinas Perikanan dan Kelautan, Dra Andriyani MSi, Senin (26/7).

Tak diketahui, berapa jumlah garam impor yang masuk ke wilayah Kabupaten Cirebon. Mengingat hal itu, merupakan kebijakan pemerintah pusat. Tapi, meskipun tak ada yang masuk, pengaruhnya tetap dirasakan.

Buktinya, terang Bunda Andri–sapaan akrabnya itu, harga jual garam petani lokal, hingga kini belum stabil.

“Harga garam itu, memang sekarang segitu. Itu belum mulai panen raya. Kalau sudah mulai panen raya, bisa lebih parah,” tuturnya.

Sementara tutur wanita penikmat lagu favorite “Jangan Salah Menilaiku” milik Tagor Pangaribuan itu, masa panen raya akan dimulai dikisaran Agustus hingga November. Kendati demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Mengingat Dislakan, tak memiliki kewenangan sampai mengatur persoalan harga garam.

“Kita tidak punya kewenangan terkait masalah harga garam. Itu kebijakan langsung dari kementrian,” akunya.

Kalaupun kewenangannya, masih ditataran penyaluran bantuan, kepada para petani garam. Agar kualitas garam yang dihasilkan bisa maksimal.

“Tahun ini saja, kita akan memberikan bantuan tanel untuk para nelayan. Diberikan kepada mereka yang memiliki kelompok. Tidak bisa diberikan kepada perseorangan,” tuturnya.

Petani garam asal Kalibangka Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Ismail Marzuki membenarkan harga garam sekarang Rp 400 per kg. Ia pun mengaku heran kenapa harga garam tetap merosot.

Karena, di tahun lalu, musim kemarau terbilang gagal. Produksinya pun merosot tajam, karena kondisi alam tidak mendukung. Yakni sering terjadi air pasang sehingga lahan garam selalu terendam.

Artinya, stok garam di petani pun sedikit. Namun yang terjadi, tidak banyaknya stok garam tidak diimbangi dengan harga jualnya.

Sekarang, kata Marzuki, kondisi produksi garam pun hampir sama dengan tahun lalu. Yakni air pasangnya masih terus tinggi, tak sedikit lahan garam yang selalu terendam air rob.

“Sudah buat garamnya susah karena sering kena rob, harganya rendah. Di akhir bulan Juli saja baru satu dua orang saja yang sudah bisa produksi garam. Nah kalau nanti sudah panen raya, tak menutup kemungkinan harga pun merosot lagi,” katanya.

Marzuki beserta petani garam di wilayah pun meminta agar pemerintah membuat harga eceran terendah (HET) garam. Sehingga, harga garam bisa stabil.

“Sampai sekarang kan belum ada HET garam. Sehingga harga garam selalu dipermainkan. Nah, kita juga minta agar pemerintah tidak impor garam, karena produksi petani garam kita pun mampu memenuhi kebutuhan garam skala nasional,” katanya.

Jika memang pemerintah beralasan haram lokal tak bisa memenuhi kebutuhan industri, kata Marzuki, sebenarnya petani pun mampu menghasilkan garam yang kadar NaCl tinggi dan masuk industri.

“Tapi syaratnya fasilitasi alatnya. Sebab, satu gulung geomembran saja harganya lumayan, banyak yang enggak kuat petani membelinya,” pungkasnya. (zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.