Gaji Rokaya Habis Diminta Agency

oleh -9 views
TRAUMA. Rokaya (kedua kanan) saat dibawa Dept Advokasi SBMI ke Direktorat PWNI dan BHI Kemenlu RI. Rokaya trauma bekerja di Irak karena diperlakukan tidak manusiawi.
TRAUMA. Rokaya (kedua kanan) saat dibawa Dept Advokasi SBMI ke Direktorat PWNI dan BHI Kemenlu RI. Rokaya trauma bekerja di Irak karena diperlakukan tidak manusiawi.

RAKYATCIREBON.ID-Usai menjalani karantina selama tujuh hari di Wisma Atlet Jakarta, Tenaga Kerja Wanita (TKW) bernama Rokaya (40) akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarganya di Indramayu.

Dia tiba di kampung halamannya di Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu pada Kamis (13/1) malam setelah bekerja di Irak.

Rokaya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mengaku trauma dengan kejadian yang dialaminya selama di Arbil, Irak.

Dia tidak kembali ke Timur Tengah untuk jadi TKW. “Saya tidak mau lagi ke sana,” ungkapnya.

Menurutnya, selama satu tahun bekerja di Arbil, ia merasa sangat tertekan. Karena tetap dipaksa bekerja meski dalam keadaan sakit.

Bahkan tidak diberikan waktu libur maupun istirahat. Ia harus bekerja mulai pukul 6 pagi sampai dengan 11 malam, tidak jarang pula sampai jam 12 malam karena harus mengurusi pula rumah saudara majikannya. “Jangankan dibawa ke dokter, saya lagi sakit tetap harus kerja,” ungkapnya.

Setiap kedapatan duduk untuk istirahat karena tidak ada lagi yang harus dibereskan, majikannya pasti selalu memanggilnya. Ia juga dipantau selama 24 jam melalui kamera CCTV yang ada di dalam rumah sang majikan.

“Dipanggil terus kalau ketahuan duduk, disuruh pijat, sampai tangan saya gak kerasa apa-apa karena sering pijat,” kata dia.

Selain itu, Rokaya juga hanya diberi kesempatan sepuluh menit untuk bisa mengabari keluarga di Indramayu setiap minggunya.

Namun, kini ia bersyukur karena bisa pulang ke Indonesia dan bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.

“Di sana beda, memang saya tidak mendapat kekerasan, tapi orang di sana keras-keras wataknya, saya di sana seperti di penjara,” ucapnya.

Cerita pilu Rokaya tidak sampai disitu. Dia pulang ke Indonesia hanya membawa uang Rp4 ribu. Karena uang hasil kerjanya habis diminta agency untuk membeli tiket kepulangannya dari Irak ke tanah air. “Sisa gaji saya itu 800 Dollar, uang itu diambil semua oleh agency buat beli tiket saya pulang,” tuturnya.

Uang ratusan Dollar itu murni hasil kerjanya selama kurang lebih 3 bulan. Dalam sebulannya hanya menerima 300 Dolar sebulan. Padahal, dalam perjanjian kerja seharusnya digaji sekitar 500 Dolar.

Selain uang gaji, juga tetap diminta uang tambahan sebesar 100 Dolar dengan alasan menurut agency uang tersebut masih kurang untuk membeli tiket. Namun, Rokaya tidak bisa memenuhinya karena sudah tidak memiliki uang.

“Tapi saya gak punya uang lagi, ada juga uang receh mata uang rupiah, 4 ribu rupiah. Tapi dianya (agency, red) gak mau. Untung waktu itu sebelumnya, setiap bulan setiap gajian langsung saya kirim ke keluarga,” kata dia.

Sebelumnya, Rokaya tiba di Indonesia pada 7 Januari 2022. Dari Arbil, Irak, perjalanan pulangnya menggunakan pesawat Turkish Airlines.

Sebelum turun di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, pesawat yang dinaikinya sempat transit di Bandara Istanbul. Lalu sesuai aturan ia harus menjalani karantina selama 7 hari di Wisma Atlet Jakarta.

Sebelum dijemput keluarga untuk dibawa pulang, Rokaya bersama perwakilan Departemen Advokasi Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) berkunjung ke Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) Kemenlu RI. Juga bersilaturahmi ke Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) di Jakarta. (tar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.