Distribusi Pupupk Subsidi Kacau, Selly Janji Pertemukan Distan Jabar dengan Petani di Saung Wangsakerta

oleh -101 views

RAKYATCIREBON.ID – Perwakilan petani Ciayumajakuning menyampaikan unek-uneknya perihal kesulitan mendapatkan pupuk subsidi. Hal itu mencuat dalam diskusi petani dengan Anggota DPR RI Komisi VIII, Hj Selly Andriany Gantina, Rabu (24/2) yang digelar di Saung Wangsakerta, Cirebon.

Shobirin, petani Cirebon menyinggung, salah satu keluhan petani belakangan ini ialah carut marutnya distribusi pupuk bersubsidi. Menurutnya, banyak petani yang berhak mendapat pupuk subsidi tetapi tidak kebagian jatah. Lantaran tidak tercantum dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

“Malah justru banyak yang bukan petani datanya masuk RDKK,” tegas Shobirin.

Salah satu Pemilik Toko Pupuk Lengkap asal Suranenggala Cirebon, Nurlaela membenarkan terjadinya kesulitan mendapatkan pupuk subsidi bagi petani. Dia mensinyalir, semrawutnya distribusi pupuk subsidi karena persebaran kartu tani belum maksimal. Diperparah RDKK yang datanya kacau. “Petani yang tidak tercatat di RDKK merasa bingung,” jelasnya.

Kesulitan mendapatkan pupuk subsidi tak hanya di Cirebon. Di Indramayu juga sama. Tak sedikit petani dari daerah lumbung padi nasional ini justru tak kebagian pupuk subsidi. Kendalannya sama. Tak tercantum dalam RDKK.

Pun di Majalengka. Masjono mengaku, kekacauan data RDKK bermula dari pendataan di tingkat Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang belum akurat. Sehingga memicu kekacauan. Dia berharap, kekacauan segera diatasi supaya tak terjadi di musim tanam selanjutnya.

Merespon keluhan petani, Selly bakal menyampaikan langsung keluhan tersebut ke Dinas Pertanian Jabar. Bahkan dalam waktu dekat Selly berjanji akan mendatangkan Kepala Dinas Pertanian (Distan) Jabar datang menemui petani di Ciayumajakuning di Saung Wangsakerta.

“Saya akan langsung bawa Kabid Pertanian Jawa Barat ke Wangsakerta. Yang nggak masuk dalam RDKK tolong dibawa datanya. Mudah-mudahan kawan saya dari Kabid Pertanian bisa mendaftarkan langsung ke Dinas Pertanian Jawa Barat,” katanya.

Selly mengakui, lemahnya pendataan di level bawah. Dia menyayangkan, kelemahan pendataan tersebut. Imbasnya banyak petani dengan lahan garapan di bawah 2 hektar tidak kebagian pupuk subsidi. “Harusnya untuk petani malah dipakai oleh industri yang nggak boleh pakai pupuk subsidi,” ujar Selly.

Di sisi yang lebih luas, wakil rakyat Dapil Indramayu-Cirebon itu mengakui, ketahanan pangan menjadi masih isu strategis yang dibahas berbagai kalangan. Sayangnya, berbagai kebijakan yang diterapkan justru mengarah bukan pada kedaulatan pangan.

“Kebanyakan wong Cirebon, Indramayu dan Majalengka kalau dapat bantuan miskin dapat berasnya bukan beras dari Cirebon tapi beras import dari Vietnam,” kata dia.

Padahal, jika serius bicara ketahanan pangan kebijakan yang diterapkan harusnya mendukung pemberdayaan petani. Misalnya dengan menyerap produk petani lokal untuk berbagai kebutuhan.

“Kenapa tidak gunakan beras dari Cirebon. Kalau sudah habis baru nyari dari daerah lain,” pungkas Selly. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *