Diserang Hama, Produksi Gabah Petani Turun

oleh -11 views
KUALITAS TURUN. Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Wasman sebut kualitas menurun karena adanya hama kresek.
KUALITAS TURUN. Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Wasman sebut kualitas menurun karena adanya hama kresek.

RAKYATCIREBON.ID – Produksi pertanian di Kabupaten Cirebon menurun. Penyebabnya, lantaran hama kresek. Penurunannya pun mencapai separuh dari hasil panen biasanya.

Biasanya, per 1 hektare, menghasilkan 7 sampai 8 ton. Tapi, kali ini, rata-rata padi yang dihasilkan hanya dikisaran 4 ton.

“Penyakit kresek itu, tanaman padi yang daunnya mengering seperti terbakar. Sama kadar air, jadi kadar air gabah pada saat panen rendengan itu tinggi. Berpengaruh pada hasil panen petani,” kata Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Wasman, kemarin.

Sementara berkaitan dengan harga jual, saat ini dibawah harga peraturan pemerintah (HPP). HPP untuk gabah kering panen itu Rp.4200 per kilogram, akan tetapi, harga tersebut harus memenuhi syarat kualitas gabahnya. Seperti kadar air yang ada pada tiap butir gabah maksimal 25 persen dan kotoran atau kadar hampa maksimal 10 persen. 

“Dilapangan karena memang cuaca banyak hujan sehingga kadar air itu lebih dari 25 persen dan kadar hampa juga lebih dari 10 persen. Tentu itu mempengaruhi harga HPP, itu yang disampaikan sama Bulog. Itu namanya rafaksi harga, boleh 42 tapi syaratnya seperti tadi,” paparnya.

Sedangkan, untuk gabah kering giling itu Rp.5300, kadar air gabah kering giling itu harus 14 persen. Itu diterima sama Bulog, jadi yang punya kewenangan pengamanan harga itu adalah Bulog.

“Kalau Dinas Pertanian mengawal budidaya, bagaimana menghasilkan produksi yang bagus dan kualitasnya yang bagus. Berarti harus dikawal teknologi budidayanya,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ada oknum yang memainkan harga gabah. Permasalahannya, hanya ada pada rantai tataniaga. Dari petani sampai ke pasar, dari petani sampai ke Bulog. Namun, disamping itu, ada rantai-rantai tataniaga yang seperti tengkulak yang juga memiliki peran penting terhadap kesetabilan harga gabah.

“Kita tidak punya kewenangan untuk mencegah itu rantai tataniaga. Karena itu kan transaksi jual beli antara produsen dengan konsumen. Mereka suka begitu, jadi mematok harga rendah. Nah, sebetulnya kita sampaikan kepada petani jangan sama tengkulak, kan kalau tengkulak itu masuknya ke black market kan begitu, pasar gelap karena tidak ada di rantai,” terang Wasman.

Ia menyarankan para petani untuk menjual gabah kepada mitra Bulog. Sebab, banyak tempat penggilingan padi yang menjadi mitra Bulog. Terlebih jika ada harga jual gabah yang terlalu rendah dari HPP, para petani atau siapapun bisa langsung melaporkannya ke pihak terkait.

“Petani atau siapapun bisa menghubungi Dinas Pertanian atau penyuluh Dinas Pertanian yang berata di UPTD. Nanti di kontak ke Bulog, kan tim sergap itu Dinas Pertanian, Bulog, sama Kodim,” kata dia.

Ia mengimbau, ketika hendak melakukan panen, petani di harapkan melakukannya pada saat daun bendera yang ada pada tanaman padi masih dalam kondisi berwarna hijau. “Kalau mengering seperti terbakar itu kena penyakit kresek, jadi proses fotosintesis nya tidak sempurna. Pada saat proses fotosintesis itu waktunya pengisian bulir padi,” pungkasnya. (zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *