Dinas Pertanian Majalengka Jamin Tidak akan Terjadi Kelangkaan Pupuk

oleh -82 views

RAKYATCIREBON.ID -Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka pada musim tanam ke dua memastikan tidak akan terjadi kelangkaan pupuk seperti pada musim tanam rendeng, dengan ketersediaan kuota mencapai 37 ribu ton di Tahun 2021, meliputi pangan dan palawija.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka, Iman Firmansyah mengatakan, kuota pupuk sebanyak 37 ribu ton diharapkan bisa mencukupi seluruh kebutuhan petani.

“Kami awalnya mengajukan kuota 48 ribu ton, terealisasi sebanyak 37 ribu ton, ini akan mencukupi untuk 51 ribu hektare sawah dan 5 ribuhektare palawija,“ kata Iman kepada Rakyat Cirebon, Rabu (24/3).

Menurutnya, salah satu penyebab kelangkaan pupuk pada musim tanam rendeng karena sejumlah pengecer banyak yang tidak sanggup menembus pupuk ke tingkat agen.

Dampaknya banyak petani yang mengalami kesulitan pupuk karena di agen tempatnya membeli tidak tersedia.

“Sebetulnya ketersediaan pupuk tidak bisa diselesaikan hanya oleh Perintah, tapi mitra pemerintah, produsen, distributor dan pengecer harus satu ikatan, satu kesamaan irama,” kata Iman.

Mekanisme sekarang pembelian pupuk harus dilakukan oleh pemegang kartu Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK), kartu tersebut dibuat oleh Bank Mandiri berdasarkan daftar nama yang diajukan oleh Kelompok Tani melalui Penyuluh Pertanian.

Namun pada pelaksananya ada banyak yang tidak masuk kelompok tani, dan kalau daftar nama telah diajukan banyak terjadi kekeliruan.

Sehingga nama petani tidak seluruhnya tertera di E-RDKK milik pengecer atau petani sendiri tidak memiliki kartu karena kartunya belum terbit.

“Pengecer pupuk harus menjual sesuai HET dan memegang E RDKK, jangan sampai pengecer melayani pembelian dari luar daerah apalagi melebihi HET,” ungkap Iman

Selain itu, kata dia, ada sejumlah pengecer yang tidak mampu menebus DO karena dianggap terlalu banyak, dampaknya petani kelimpungan mencari pupuk dan akhirnya pupuk dianggap langka.

Kini, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan empat BUMDes untuk memperlancar ketersediaan pupuk tersebut, diantaranya Pilangsari, Pasiipis dan Panyingkiran.

Setelah adanya keterlibatan BUMDes diharapkan di wilayah tersebut bisa teta tersedia. Sedangkan di wilayah lainnya pengadaan pupuk masih dilakukan pengecer independen atau dari masyarakat.

Iman berharap, petani tidak terlalu berlebihan menggunakan pupuk kimia dan bisa mencampur pupuk urea dengan jenis lain ZA dan Phonska agar tanaman bisa lebih baik, serta tanah bisa tetap terjaga.

Ia malah mengimbau petani untuk memperbanyak pupuk organik agar tanah tetap subur dan tidak jenuh.

“Kami sekarang memperbanyak penyediaan pupuk organik untuk petani. Dengan harapan lambat laun semua petani tidak bergantung pada pupuk kimia namun ke organik agar produksi bisa naik, harga jual juga bisa naik, karena sekarang konsumen banyak yang mulai beralih ke produk pertanian organik,” ujar Iman.

Sementara itu sejumlah petani di Majalengka pada musim tanam rendeng banyak yang terpaksa membeli pupuk non subsidi dengan harga Rp600 ribu per kwintal karena pupuk subsidi tidak tersedia di tingkat pengecer.

Menurut Tinggal, petani di Desa Pagandon, Kecamatan Kadipaten dan Sukarna petani di Kelurahan Simpeureum, Kecamatan Cigasong misalnya, mereka terpaksa membeli pupuk non subsidi karena di pengecer tempatnya membeli pupuk tidak tersedia.

Akibatnya mereka rugi karena pupuk terlalu mahal sementara harga gabah sangat murah. Hal yang sama juga dialami Aep dan Jami petani di Desa Panyingkiran.

Bahkan Aep kini merelakan gabahnya dibeli dengan harga Rp300 ribu per kwintal karena tak laku dijual. Aep mengaku telah mendatangi beberapa tengkulak di sejumlah desa namun semua menolak membeli.

“Pusing lima bandar didatangi, semua menolak membeli gabah, alasanya tidaka ada uang. Saya rela menjual murah asal ada yang membeli,” imbuhnya.(hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *