Bupati Purwakarta Memimpin Lewat Jalur Diplomasi Seni-Budaya

oleh -4 views
DIPLOMASI seni-budaya, menjadi ciri kepemimpinannya. Berkat itu pula, Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH, menjadi sosok kepala daerah yang berbeda dengan kepala daerah lain, khususnya di wilayah Jawa Barat. Bupati Dedi adalah perkecualian. Justru karena keunikannya dimana dia sebagai sosok politisi dan pemimpin daerah, lebih konsen mengembangkan gaya kepemimpinan yang soft, segar, kreatif, estetik dan intuitif.

Bupati Purwakarta H Dedi Mulyadi. Ist./Rakyat Cirebon

Berbeda dengan kepala daerah yang lebih menonjolkan sisi sosok politisnya, Dedi justru menanggalkan kesan-kesan sebagai politisi itu.  Kemunculannya di panggung politik Jawa Barat, seperti fenomena tersendiri dimana dalam menjalankan roda pemerintahannya sebagai seorang bupati/kepala daerah, Dedi lebih mempertontonkan sebagai sosok pemimpin informal.

Gaya memimpinnya  yang non-konvensional dengan mengembangkan pola diplomasi seni-budaya menjadikan Dedi mampu membawa angin segar bagi peta perpolitikan Jawa Barat. Pemimpin, tidak harus rigid, kaku, formal dan konvensional.  Hampir dua periode kepemimpinannya, Dedi mampu membuat berbagai macam terobosan kebijakan sehingga Purwakarta mengalami berbagai macam kemajuan.

Tidak saja secara ekonomi melalui pembangunan fisik-material, tetapi juga secara kebudayaan melalui pembangunan spiritual-imaterial. Untuk itu semua, Dedi memperoleh sorotan internasional sebagai salah satu dari “Pemimpin Muda Inspiratif”.

Pada bulan Agustus 2015 lalu, Dedi memperoleh kehormatan luar biasa dengan memperoleh kesempatan berpidato di markas PBB di New York Amerika Serikat atas undangan International Young Leaders Aseembly (IYLA), sebuah lembaga internasional yang secara khusus bertugas mencari benih-benih pemimpin muda di dunia yang mampu mengembangkan gaya kepemimpinan inovatif dan kreatif.

Dalam ranah Jawa Barat, Dedi mampu menunjukan dirinya sebagai seorang pemimpin politik yang sukses melalui jalur diplomasi seni-budayanya (soft diplomatic). Bukan sebagai pencitraan politik, namun karena memang dirinya memiliki kesadaran otentik akan perlunya seni-budaya menempati posisi penting dalam ranah kehidupan.

Apa yang dilakukan Dedi dengan diplomasi lunaknya, menjadi inspirasi (antitesa) terhadap pandangan masyarakat yang terlanjur melihat politik sebagai tempat orang saling menebar kebencian, penuh kegaduhan, gontok-gontokan yang berakhir dengan kekerasan. Melalui diplomasi seni-budaya, Dedi ingin mengubah stigma di atas, dan membalikan logika keliru dengan memperkenalkan semangat baru bahwa politik ialah tempat orang saling mengapresiasi, merdu bagai orkesta simponi, saling memuji dan anti kekerasan.

Politik adalah keramahan, politik adalah senyum menyapa dan politik adalah seni bermasyarakat dan seni memimpin. Politik, bagi Dedi, bukanlah ladang tempat orang saling membantai, lalu ketika sudah berkuasa berusaha menaruh hagemoni tanpa memberi ruang sedikitpun bagi lawan, atau potensi lawannya, untuk berkiprah.

Politik, bagi Dedi adalah ruang dimana dirinya, dan seluruh warga masyarakat, tak terkecuali lawan-lawan politiknya, untuk sama-sama berekspresi, mencari alternatif terbaik, bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah. Dan diplomasi seni-budaya yang dia kembangkan, adalah sarana untuk menjadi ruang publik, sebagai milik bagi semua orang untuk sama-sama berekspresi menunjukan kemampuan masing-masing.

Diibaratkan sebagai festival seni dimana semua bisa tampil dengan kelebihan dan keunikan, serta keunggulan masing-masing, tanpa ada yang harus dikalahkan, merasa direndahkan atau merasa didominasi atau terhegemoni oleh pihak lain. Pada posisi inilah, Dedi menempati dirinya sebagai seorang fenomena. (Anto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.