Bingung Cari Kerja dan Tempat Tinggal

oleh -1 views
Warga Eks Gafatar Hanya Bisa Pasrah, Berharap Kebaikan Pemda

SUMBER – Warga Kabupaten Cirebon eks Gafatar mulai kebingungan untuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal setelah pemulangan dari Kalimantan.

warga cirebon eks gafatar
Warga Cirebon eks Gafatar. Foto: Yoga Yudisthira/Rakyat Cirebon

Mereka mengaku sudah tidak memiliki harta benda karena sudah dijual guna membiayai selama pindah.

Hal tersebut dikatakan dua warga eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Abdul Wahid (44), warga Desa Ambit Kecamatan Waled dan Edi Suprianto (55), warga Desa Kedung Jaya Kecamatan Kedawung kepada sejumlah wartawan, saat tiba di Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Sosial Kabupaten Cirebon usai dipulangkan dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Senin (1/2).

Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, kemarin terdapat empat orang warga yang telah dipulangkan ke Kabupaten Cirebon yaitu Edi Suprianto dan Istrinya Alfiah Hera (51) serta sang anak Ilham Fauzi (20).

Adapun satu warga lainnya yakni Abdul Wahid yang mengaku berangkat tanpa ditemani keluarganya,  ikut rombongan pertama pemulangan warga eks Gafatar dari Kalimantan dan ditampung terlebih dahulu di Dinsos Pemprov Jabar.

Mereka dijemput oleh petugas Dinsos Kabupaten Cirebon yang dikawal petugas dari Polres Cirebon dengan menggunakan kendaraan operasional dinsos. Mereka tiba di BLK sekitar pukul 16.00 dan disambut Kepala Bakesbanglinmas, Ma’mun Effendi.

Kepada sejumlah wartawan, Edi Suprianto mengaku, dirinya sudah berangkat ke Kalimantan sejak enam bulan yang lalu.

Dia membenarkan, ikut mengajak istri dan juga anaknya untuk bergabung dengan anggota Gafatar lainnya.

“Kita sekeluarga berangkat sejak enam bulan lalu. Waktu di Cirebon kita tinggal di Kedung Jaya Kedawung,” ungkap Edi.

Disinggung mengenai pekerjaan selama berada di Kalimantan, Edi mengungkapkan dirinya dan juga warga Gafatar lainnya bekerja sebagai petani.

Warga, lanjutnya, ada yang membeli lahan garapan dan berkomunikasi dengan penduduk asli untuk ikut menggarap.

Walaupun, ungkapnya, biaya hidup di sana menggunakan dana pribadi yang diperoleh dari menual harta benda sebelum berangkat.

“Jadi, sekarang saya sendiri sudah tidak memiliki apa-apa lagi. semua barang sudah dijual dan dari sana juga sudah tidak bisa bawa apa-apa karena dilarang,” tambahnya.

Untuk itu, Edi mengaku, menyerahkan sepenuhnya kehidupan dirinya kepada pemerintah daerah setempat. Dia juga mengaku bingung untuk bekerja apa di kemudian hari.

“Kita sih bagaimana pemerintah saja karena kita juga mau pulang bingung mau kemana. Mau usaha juga tidak ada modal. Jadi, kita serahkan semuanya pada pemerintah. Selama enam bulan di Kalimantan, saya bertani dan baru petik enam kali dari lahan yang saya garap. Di sini, saya bingung mau garap apa,” terangnya.

Akan tetapi, Edi menegaskan, ia dan keluarganya bukan warga asli Kabupaten Cirebon.

“Di Desa Kedungjaya mengontrak sebuah rumah. Saya asli Lampung dan istri juga dari sana. Tapi, saya sudah lima tahun ini tinggal di Kedungjaya dan ngontrak. KTP terakhir juga dari Cirebon,” tambahnya.

Senada diungkapkan Abdul Wahid yang menyatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki keluarga di Kabupaten Cirebon.

Dia mengatakan, istri dan anaknya sudah tak lagi tinggal di Cirebon karena berpindah tempat selama dirinya berada di Kalimantan.

“Istri dan anak saya ke Jakarta nyari kerja di sana karena saya ke Kalimantan. Saya sepertinya akan ke Jakarta juga nyusul mereka karena saya bingung di sini juga mau kerja apa,” ujarnya singkat.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun Rakcer, selain empat orang yang sudah tiba di BLK, masih ada sekitar 22 orang lagi yang merupakan warga Kabupaten Cirebon yang ikut pemulangan gelombang pertama.

Akan tetapi, rombongan ini masih berada di Jakarta karena tidak ditampung di Dinsos Provinsi.

Untuk kedatangan di BLK, rombongan belum dapat dipastikan.

Sebab, hingga berita ini ditulis, petugas masih kesulitan untuk menemukan kendaraan yang akan dipergunakan mengangkut warga tersebut. (yog)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.