Aplikasi PeduliLindungi Susah Diakses di Tempat Wisata

oleh -1 views
ALAMI. Suasana Objek Wisata Curug Cipeuteuy di Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka pada masa libur. FOTO: HASANUDIN/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID – Penerapan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat masuk objek wisata rupanya mengalami sejumlah kendala. Di Kabupaten Majalengka, kendala sinyal jadi sebab belum semua objek wisata menggunakan aplikasi ini.

KepalaBidang Destinasi dan Industri Pariwisata Disparbud Majalengka, Adhy Setya Putra mengatakan, ada beberapa objek wisata yang lokasinya berada di titik blank spot atau susah sinyal.

“Untuk aplikasi PeduliLindungi ini memang belum merata. Alasannya, tidak semua tempat wisata bagus sinyal, sehingga hal itu sedikit mengganggu,” ujar Adhy, Jumat (17/9).

Selain terkendala sinyal, keterbatasan alat penunjang aplikasi PeduliLindungi yakni smartphone juga jadi penyebabnya. Adhy menuturkan, tidak semua orang yang berwisata memiliki smartphone.

Meski begitu, dia memastikan telah meminta semua pengelola wisata di Majalengka untuk mulai menggunakan dan menyosialisasikan aplikasi PeduliLindungi kepada pengunjung.

“Tetap kami mengimbau kepada para pengelola wisata agar menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Kami juga menyosialisasikan aplikasi ini bersama Dinas Pariwisata Provinsi,” ucapnya.

Kendati demikian, Adhy menyebut telah ada beberapa wisata di daerahnya yang telah menggunakan aplikasi pendeteksi vaksin tersebut.

Salah satunya, objek wisata Curug Cipeuteuy yang berada di Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.

“Untuk yang sekarang ada beberapa objek wisata yang sudah menggunakan aplikasi PeduliLindungi, salah satunya Curug Cipeuteuy,” jelas dia.

Masih kata Adhy, dari hasil pantauan di lapangan, para pengelola wisata di Majalengka diketahui sudah taat terhadap prosedur dan aturan yang ditetapkan pemerintah.

Mulai dari pembatasan kapasitas hingga penerapan protokol kesehatan terpantau sudah berjalan optimal.

“Sejauh ini, dari kunjungan yang dibatasi sekitar 25 persen, kemudian protokol kesehatan, mereka (pengelola) taat dan mengatur sesuai prosedur,” katanya. (hsn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.