APBD Kolaps, Pokir Dewan Terancam Dipangkas

oleh -24 views
RENCANA REFOCUSING. Walikota Cirebon, Drs H Nashrudin Azis SH (kanan) didampingi Sekda, Drs H Agus Mulyadi MSi memberikan keterangan pers terkait rencana refocusing anggaran belanja. FOTO: NURUL FAJRI/RAKYAT CIREBON

RAKYATCIREBON.ID – Pemerintah Kota Cirebon tengah menyusun rencana refocusing anggaran belanja untuk membiayai penanganan Covid-19. Beberapa program pembangunan tahun ini hampir dipastikan tidak bisa digelar. Termasuk melalui pokok pikiran (pokir) anggota DPRD.

“Beberapa program pembangunan ditunda. Seperti, peningkatan Jalan Kartini-Jalan Siliwangi, lanjutan revitalisasi lapangan Kebumen, termasuk pokir dewan. Kita harus refocusing anggaran,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Drs H Agus Mulyadi MSi di ruang Kanigaran Balaikota Cirebon, Senin (28/6).

Ia menambahkan, refocusing anggaran belanja tahap pertama tahun 2021 mencapai Rp107 miliar. Sekitar Rp48 miliar di antaranya untuk pembiayaan penanganan Covid-19. Sisanya untuk menutup defisit belanja, hingga pembiayaan TPP bagi ASN selama dua bulan pada tahun ini.

“Memang APBD kita sudah kolaps. Makanya, kita antisipasi juga defisitnya. Jangan sampai ada program yang sudah dijalankan, tapi tidak bisa terbayarkan di akhir tahun,” jelas pria yang akrab disapa Gusmul itu.

Ia belum bisa memastikan nilai anggaran belanja yang akan dipangkas untuk penanganan Covid-19 dan antisipasi defisit. “Kita lihat dulu kebutuhannya. Yang jelas, kita sedang susun rencana refocusing tahap dua di tahun ini,” kata mantan kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Cirebon itu.

Sementara itu, Walikota Cirebon, Drs H Nashrudin Azis SH menyatakan, pihaknya sebenarnya ingin menjalankan program pembangunan yang sudah direncanakan. Namun karena kondisi keuangan daerah yang memprihatinkan, sejumlah program tak bisa dijalankan.

“Tapi kami harus memilih fokus menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat Kota Cirebon. Ini yang lebih utama, karena hukumnya wajib. Pilihan yang sangat menyakitkan dan pahit bagi kami penyelenggara pemerintahan. Visi dan misi kami juga menjadi terganggu,” ungkap Azis.

Terkait kondisi RSD Gunung Jati, Azis menyampaikan, pihaknya sudah memroyeksikan menjadi rumah sakit khusus Covid-19 secara bertahap. Pihaknya memilih untuk tidak menutup RSDGJ di saat pasien Covid-19 terus bertambah secara signifikan. “Kami akan tetap melayani dengan apa adanya,” kata dia.

Oleh karena itu, Azis memohon kepada masyarakat untuk memaklumi kondisi pelayanan RSDGJ saat ini, jika dinilai kurang maksimal. Dia menyebutkan, kondisi saat ini tengah darurat. RSDGJ menjadi rumah sakit dengan pelayanan pasien Covid-19 terbanyak di Kota Cirebon.

“Kalau mau praktis mungkin bisa saja kami tutup dulu. Tapi kami membayangkan betapa masyarakat membutuhkan pelayanan. Langkah tidak menutup RSD Gunung Jati meski overload, adalah bentuk kecintaan pemerintah kota kepada masyarakatnya,” tutur Azis.

Dari 423 bed yang tersedia di RSDGJ, sebanyak lebih dari 50 persennya terisi pasien Covid-19. Kapasitas tersebut termasuk penambahan tempat tidur sebanyak 66 bed. “Kami sedang merancang, bagaimana pelayanan untuk pasien non-Covid-19,” kata sembari menyampaikan, pihaknya juga tengah berupaya menambah SDM di RSDGJ. (jri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.