Ada 3 Standar untuk Diagnosa Stunting pada Anak

oleh -9 views
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mahardika, Ns Dwiyanti Purbasari MKep

RAKYATCIREBON.ID – Salah satu upaya mencegah terjadinya kasus stunting pada anak, bisa dilakukan dengan menerapkan standar keperawatan 3S yaitu Pola Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI).

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mahardika, Ns Dwiyanti Purbasari MKep menerangkan, sejak tahun 2019 hingga 2020, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah mengeluarkan standar asuhan keperawatan yang diberlakukan di semua pelayanan keperawatan di Indonesia. Dan itu diperuntukkan bagi semua fasilitas pelayanan kesehatan baik itu di rumah sakit maupun di puskesmas.

“Standar keperawatan tersebut salah satunya standar diagnosa keperawatan, standar luaran keperawatan, dan standar intevensi keperawatan,” ungkap Dwiyanti.

Dwiyanti mengemukakan, dalam mengaplikasikan pola standar 3S sendiri, salah satunya pada anak dengan kasus stunting. Perawat pertama harus melakukan pengkajian secara spesifik kepada data-data yang muncul, baik secara objektif maupun subjektif pada anak stunting.

Kemudian dari data-data yang muncul, maka akan dikelompokkan dengan fokus yang sama, baik secara objektif maupun subjektif. Kemudian baru dianalisis mengarah kepada salah satu masalah yang muncul. Perawat kemudian menentukan diagnosa keperawatan yang ada di SDKI tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan Dwiyanti, penerapan standar keperawatan 3S sangat penting diterapkan bagi anak stunting, karena memang diagnosa keperawatan pada anak stunting adalah defisit nutrisi. Yaitu anak stunting yang mengalami ketidaksesuaian antara tinggi badan dengan usianya.

“Dengan penerapan SDKI, SIKI, dan SLKI ini salah satu luarannya mencegah terjadinya dampak komplikasi pada kasus stunting, dan pencegahannya sendiri dapat dilakukan sejak bayi itu lahir. Dengan berat badan rendah, maka bisa diketahui lebih awal untuk pemberian nutrisinya,” jelas Diyanti.

Masih dijelaskan Dwiyanti, misalkan berat badan bayi rendah, maka nanti untuk pemberian asupan baik dari jumlah kalori, nutrisi dan cara pemberian maka disesuaikan dengan berat badan anak dan usianya, hal ini juga sudah ada dalam standar keperawatan 3S tadi.

“Termasuk dalam pencegahan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami stunting. Salah satu dampaknya pada pertumbuhan otak yang akan mencetuskan gangguan perkembangan yang lainnya, baik itu motorik, kognitif, bahasa bicara, dan yang lainnya,” pungkas Dwiyanti. (sep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.